Thursday, March 21, 2024

Payung Hitam


14 Mei 1998

Hari itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Ibu tengah sibuk memasak di dapur, ayah memanasi mobil di depan. Tidak ada yang berbeda dari hari sebelumnya. Tapi wajah mereka menyiratkan berbeda. Raut kecemasan di wajah ayah, ibu, juga Arga yang baru keluar kamar tampak jelas.

Sayup-sayup terdengar berita dari televisi. Beberapa aksi massa dan kerusuhan terjadi di ibukota dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Ibu menolehkan pandangan ke arah televisi. Nampak ayah ternyata sudah duduk menyimak liputan itu di televisi.

"Arga, menurut ayah lebih baik kamu di rumah saja hari ini. Ayah tidak mau ambil resiko kalo kamu terluka saat aksi nanti," kata Ayah sambil terus menyimak berita.

Arga yang tengah duduk di meja makan terdiam. Ia menyuap nasi goreng buatan ibu yang hari itu entah mengapa begitu lezat. "Pelan-pelan makannya nak, kalau kurang tambah saja nasinya," kata ibu sambil mengelus rambut Arga. Arga pun tersenyum pada ibu.

"Tapi Yah, gerakan hari ini yang menentukan perjuangan kami selama ini. Izinkan Arga berangkat ya Yah. Arga janji akan jaga diri. Begitu situasi tidak terkendali, Arga akan mundur," kata Arga berusaha meyakinkan Ayahnya.

Mendengarnya, Ayah Arga lama memandangi wajah anak satu-satunya itu. Pandangan Ayah Arga lantas berpindah ke istrinya yang jelas menampakkan raut khawatir. Ia lantas menghembuskan nafas panjang. Ia menguapkan segala kekhawatirannya. 

"Pastikan jaga diri baik-baik ya nak. Jangan memprovokasi atau terprovokasi. Kamu tahu, suasananya saat ini tengah genting kan. Pergilah dan pulang dengan keadaan baik-baik saja," ayah Arga akhirnya mengizinkan anaknya pergi. Arga pun berpamitan dengan ayah ibunya. Ia pergi mengendarai motor kesayangannya Honda Supra X 100. Ayah dan ibunya memandangi punggung Arga saat ia pergi hingga menghilang di tikungan jalan.

****

Perempuan tua itu nampak kuyu dengan pandangan sayunya menatap kosong ke jalanan di depan rumahnya. Payung hitam yang ia bentangkan menutupinya dari gerimis malam itu. 

"Mengapa kamu tidak pulang-pulang nak, ibu menunggumu datang. Ibu sudah siapkan masakan kesukaanmu nak. Ayahmu telah pergi mendahului ibu, bahkan hingga di nafas terakhirnya namamu yang disebutnya. Kemana lagi ibu menanyakan keberadaanmu nak? Aksi Kamisan kami pun sepertinya hanya dianggap tarian boneka tanpa arti. Padahal ibu dan keluarga lainnya hanya ingin bertanya keberadaanmu juga orang-orang hilang lainnya. Kalau memang kamu sudah tiada, ibu ikhlas nak, asalkan mereka bisa tunjukkan dimana jasadmu dikuburkan. Tapi tenang saja Arga anakku, ibu akan bertahan menunggumu selama nafas ini masih terhembus." 


#RWCODOPDay10

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

0 comments:

Post a Comment