Sunday, March 31, 2024

,

Siapa Sangka Bisa Mengubah Hidup dengan Melakukan Hal Hal Kecil


Atomic Habits || James Clear || @bukugpu || baca di @gramediadigital || 2019 || 341 halaman

Rate : 5/5 ⭐

Banyak asumsi yang menjadi pandangan umum kalau ingin memberikan dampak yang besar dan luar biasa kita harus melakukan hal hal besar pula. Tapi ternyata di buku Atomic Habits karya James Clear ini kita ditunjukkan hal yang berbeda. Bahwa dengan melakukan perubahan yang sangat kecil pun kita bisa mendapatkan dampak perbedaan yang besar. Hal kecil yang ketika kita lakukan tidak nampak perubahannya, namun jika konsisten di lakukan perubahan akan terasa lebih bermakna terlihat dalam jangka panjang.

Menurut James, 1% lebih baik dilakukan setiap hari dalam setahun akan membuat kita lebih baik 37 kali di penghujung tahun. Menurutnya, kebiasaan merupakan bunga majemuk dalam perbaikan diri. Jadi membangun kebiasaan baik setiap harinya meskipun tidak terlihat perubahannya di hari itu, kita akan terkejut melihat dampak perubahannya dalam hidup kita nanti. Kita diarahkan untuk membangun kebiasaan sehingga nantinya akan terbentuk identitas kita. Inilah yang disebut konsep Atomic Habits.

Dalam buku Atomic Habits, terdapat empat kaidah yang disampaikan. 

• Kaidah pertama, menjadikannya terlihat

• Kaidah kedua, menjadikannya menarik

• Kaidah ketiga, menjadikannya mudah

• Kaidah keempat, menjadikannya memuaskan

Empat kaidah di atas merupakan seperangkat aturan sederhana yang dapat digunakan untuk membangun kebiasaan kebiasaan menjadi lebih baik.

Selain membangun kebiasaan baik, dalam buku ini juga disampaikan bagaimana lingkungan yang baik akan mudah sekali membantu kita membangun kebiasaan baik. Hal ini juga berarti kalau memang kita mau membangun kebiasan baik, kenali dulu faktor faktor pendukung di sekeliling kita. Kalau memang dirasa lingkungan itu kurang mendukung atau malah membatasi, ada baiknya kita hijrah ke lingkungan yang lebih baik. Karena menurut James, kita lebih mudah membangun kebiasaan baru di lingkungan yang baru.

Salah satu cara yang menurut saya bisa membantu memulai membangun kebiasaan baik dan menjalankan kaidah-kaidah Atomic Habits adalah dengan melakukan jurnaling. Menulis jurnal atas tujuan kita jangka panjang, rencana harian, to do list harian, pencapaian harian, dll itu menurut saya makin memudahkan untuk melakukan evaluasi diri. Jurnaling bisa juga dilakukan di sosial media. Misal kita menunggah kebiasaan yang lakukan sehari-hari, ini juga membuat journey kita lebih terlihat.

Buku ini menarik untuk dibaca untuk kamu yang ingin mengubah hidup dengan cara yang berbeda. Ditulis dan diterjemahkan secara menarik serta informatif. Sehingga kita bisa lebih mudah informasi yang dipaparkan.


Selamat membaca

Continue reading Siapa Sangka Bisa Mengubah Hidup dengan Melakukan Hal Hal Kecil

Friday, March 29, 2024

Riyoyo Kupatan


Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Pepatah itu rupanya baru benar-benar dipahami maknanya oleh Putri. Saat ia merantau ke Jakarta setelah sepanjang hidupnya tinggal di Surabaya, Putri menemukan culture shock. Terutama di saat suasana Ramadhan dan Lebaran. Tiap daerah memang memiliki kearifan lokal masing-masing yang pastinya unik. 

Di kala Ramadhan, di beberapa titik masih ditemukan tradisi bedug patrol saat sahur. Tapi, banyak daerah Jakarta lain yang sudah tidak ada bedug patrol. Masih ada remaja masjid atau pemuda kampung yang keliling membangunkan sahur tapi tanpa bedug atau tabuhan. Kalau di Surabaya, masih ada yang keliling kampung untuk membangunkan sahur, tapi lebih sering ditemukan panggilan dan pengingat sahur dilakukan dari masjid dengan pengeras suara.

Lalu yang berbeda juga, kalau di Jakarta ketupat disajikan tepat di saat Lebaran. Hampir di setiap rumah akan menyiapkan ketupat lengkap dengan opor ayam. Kalau di Surabaya dan beberapan daerah di Jawa Timur, ketupat biasanya muncul sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tepatnya setelah puasa syawal setelah Idul Fitri. Tradisinya yang juga selalu ibu Putri lakukan adalah membuat ketupat, sayur labu siam, dan lepet. Masakan itu akan dibagikan ke tetangga rumah dari ujung ke ujung. Begitupun sebaliknya, kalo di Surabaya disebut riyoyo kupatan atau Lebaran Ketupat. 

Seperti siang itu, Putri begitu rindu ketupat dan sayur labu siam buatan ibunya. Ia ingat sekali saat di Surabaya, ibunya selalu memintanya ater ater ke tetangga. Bertahun-tahun sejak ibunya meninggal, Putri tak lagi membuat ketupat atau bahkan membelinya. Tapi kalo itu, ia rindu sekali ketupat sayur buatan ibunya. Ia bertekat, lebaran kali ini ia akan kembali melanjutkan tradisi kearifan lokal yang dikenalkan ibunya padanya. Berbagi syukur dan kebahagiaan dengan membagikan Ketupat, sayur labu siam, dan lepet.


#RWCODOPDay18

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWrittingChallenge2024

Continue reading Riyoyo Kupatan

Amil Zakat Terimut

Kalo ada bocah yang paling heboh kalo ada kegiatan di Masjid Nuruzzaman dan sibuk sekali bantu ini itu tentu saja Tiwi dan Seno. Saudara kembar tidak identik anak keluarga Narwan ini memang unik. Jika bocil lain lebih suka lebih suka main video game atau berlama lama gawai, Tiwi dan Seno lebih suka diajak ayah ibunya menghabiskan waktu berkegiatan di masjid. 


Pak Narwan di tengah kesibukannya berjualan beras telur di pasar, juga mengajar mengaji di masjid tiap sore. Itu mengapa Tiwi dan Seno akrab juga dengan kegiatan di masjid. Mereka berdua tidak hanya mengaji, tapi juga ikut ayahnya kalau ada kegiatan lain. Misal, saat bagi bagi takjil selama bulan Ramadhan ini. Ibu Tiwi dan Seno dengan beberapa warga lain menyiapkan makanan buka puasa. Sementara para bapak bertugas menyiapkan masjid agar siap menampung jamaah untuk berbuka puasa dan juga sholat masjid hingga tarawih. 


Lalu, bagaimana dengan dua bocil unyu ini? Mereka berdua seperti jadi seksi sibuk. Seno membantu ayahnyanya merapikan karpet masjid meskipun akhirnya coba lonjak lonjak sana sini. Sementara itu Tiwi membantu ibunya membuat kolak ubi. Ia menjadi sumber gelak tawa ibu ibu ketika wajahnya cemong cemong tepung saat membantu membulat bulatkan cenil. 


Kemudian, saat di rumah ayah ibunya berbincang tentang zakat fitrah tahun ini. Tiba-tiba Seno muncul di ruang keluarga sambil mulai merajuk. 

"Ayaaah boleh ya Seno ikut bantuin nanti bagi bagi zakat," rajuknya. Tak lama Tiwi juga muncul.

"Kalo Seno ikut bantu, Tiwi juga mauuu ayaah ibuu," ia berkata sambil menyerbu ibunya dan memeluknya. 

Melihat reaksi kedua anaknya, ayah dan ibu tertawa dan memeluk mereka. 

"Iya iyaa... boleeh tapi janji jangan nakal dan nyusahin petugas yang lain yaa," kata ayahnya.


Maka, jadilah tahun ini Masjid Nuruzzaman memiliki Amil Zakat yang paling imut. Tiwi dan Seno akan membantu membagikan zakat bersama remaja masjid lainnya. Membayangkan kedua bocil gemoy dan imut itu berkeliling membagikan zakat sudah terbayang bagaimana gemasnya mereka.



#RWCODOPDay16

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Amil Zakat Terimut

Abid dan Kantung Keajaiban

Ramadhan akan usai sebentar lagi, umat muslim yang selama hampir sebulan berlomba melipatgandakan ibadah tentu akan kehilangan. Termasuk Abid, siswa kelas 4 SD yang selama Ramadhan tahun ini menjadi sosok yang berbeda. 


Abid yang dulu dikenal sebagai anak laki-laki yang bengal. Tapi bukan tipe yang nakal keterlaluan, ia hanya suka iseng. Hanya saja, terkadang keisengannya memantik emosi orang di sekelilingnya, ayah bunda, guru, dan teman-temannya. 


Namun, suatu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan, selepas mengikuti sholat jumat di sekolahnya, Abid nampak termenung tak seperti biasanya yang selalu ceria dan aktif. Ustad Salim melihat Abid yang duduk lesu di selasar masjid sekolah, kemudian mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Abid sakit? Tumben gak main sama teman-temannya?" Tanya Ustad Salim.

"Ustad, apa betul kalo kita bengal, suka jailin orang, gak nurut kata orang tua, nanti di alam kubur dan di neraka akan disiksa?" tanyanya.

Ustad Salim tersenyum mendengar perkataan itu.

"Gini nak, Allah SWT menciptakan manusia itu dengan dua misi utama yang pertama adalah untuk beribadah kepadaNya dan yang kedua adalah menjadi khalifah di muka bumi. Dengan dua misi itu manusia akan berlomba lomba untuk memperbanyak bekal agar bisa masuk ke surga. Bekalnya apa? Ibadah yang rajin dan memperbanyak amalan baik. Sebagai anak, amalan baik bisa dalam bentuk mematuhi orang tua, rajin belajar, membantu orang-orang di sekitar dan masih banyak lagi. Nah, sekarang Ustad tanya, bekal Abid sudah banyak belom?" Ustad Salim mengakhiri tuturannya.

Abid nampak merenung, "Belum ustad, Abid masih sering bikin bunda marah. Masih sering bengal ga dengerin omongan guru di sekolah," jawabnya sambil menunduk.

Ustad Salim mengelus rambut Abid dan berkata "Nah gimana kalau selama Ramadhan nanti Abid banyak-banyakin bekal dengan ibasah dan amalan baik," ustad kemudian menyampaikan ide kepada Abid.


Sejak saat itu, Abid memiliki kantung kebaikan yang berisi kertas lipat yang dibentuk bintang. Ustad Salim mengajarkan Abid melipat kertas hingga berbentuk bintang. Setiap kebaikan atau ibadah yang ia kerjakan, ia akan memasikkan bintang pada kantungnya. Tidak seperti anak lain yang menukar kebaikan dengan reward, ia tidak meminta apapun pada siapapun. Abid hanya mau menjalankan misinya.  Ia mulai sering rajin ibadah, membantu bunda, belajar tanpa disuruh, anteng di sekolah, dan banyak hal baik yang ia lakukan. Tentu saja perubahan Abid ini membuat semua orang yang mengenalnya kagum. Termasuk ustad Salim, ia berharap semangat Abid tidak berakhir hanya saat Ramadhan saja.



#RWCODOPDay16

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

Continue reading Abid dan Kantung Keajaiban

Mabit with Bestie


Suasana Ramadhan kali ini lebih semarak bagi Dinda. Setelah 3 tahun lebih ia merantau karena merampungkan pendidikan di kota lain, tahun ini ia kembali pulang ke kota kelahirannya Surabaya. Dinda bisa menjalankan ibadah Ramadhan bersama keluarganya. Juga bertemu dengan sahabat-sahabatnya lagi. 


Seperti sore itu, Dinda bertemu dengan ketiga sahabatnya Ria, Uci, Andini dan Nura. Mereka sepakat akan bertemu di toko buku Gramedia di Ciputra World Surabaya sebelum bersama sama ke cafe atau restoran untuk berbuka puasa. Dinda yang menginjakkan kaki di Gramedia langsung mengedarkan pandangan. Tak lama ia menemukan Nura. Mereka pun berbincang sejenak kemudian Ria dan Andini muncul. Mereka saling berpelukan. Uci yang datang belakang nampak sumringah melihat Dinda. 


Karena waktu maghrib sudah dekat, mereka memutuskan untuk ke mushola dulu sambil menunggu waktu berbuka. Uci nampak menunjukkan ia telah menyiapkan bekal kurma untuk membatalkan puasa. 


"Tadinya aku mau ngajak kalian ke masjid rumahku, tapi karena kita belum bukber, aku pikir lain kali saja ajak kalian," ujar Ria.

"Emang ada apaan beb?" Tanyaku.

"Itu Din, masjid di deket rumahnya ada kegiatannya padat selama bulan Ramadhan. Ya kan Ri?" Tutur Uci. Disambut anggukan Ria. 

"Kami banyak agenda mabit untuk anak-anak muda. Ada itikaf juga, full 10 hari terakhir Ramadhan. Diisi kajian dari ustad ustad ternama" jelas Ria. Mendengar itu Dinda nampak tertarik.

"Lah kenapa ga bilang aja, yuk kita barengan ikut kegiatan di masjid kampungnya Ria. Itikaf juga hayuk, mau aku. Kalian gimana?" Tanya Dinda penuh semangat. 


Ajakan Dinda disetujui sahabat-sahabatnya. Mereka janjian ikut kegiatan mabit dan itikaf full sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dinda bersyukur ia memiliki sahabat-sahabat yang selalu saling menjaga, mengingatkan, mengajak dalam kebaikan. Dinda selalu berdoa agar mereka berlima tetap bisa menjaga hubungan baik ini, dan tetap bisa bersama-sama di jalan Allah SWT. Hingga bertemu lagi di SurgaNya. 



#RWCODOPDay15

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Mabit with Bestie

Nirmala Tak Harus Sempurna


Jika ada perempuan yang begitu membuatku kagum sekaligus iri tentu adalah Nirmala, sahabatku sejak kecil. Serupa namanya yang berarti tanpa cacat cela, bersih, suci, dan tidak bernoda. Nirmala bagiku dan mungkin juga bagi teman-teman lain adalah sosok muslimah yang bersahaja dan hampir tanpa cela. Cerdas, aura cantik wajahnya terpancar meskipun di balik cadar, menguasai beberapa bahasa asing, suaranya merdu, dan ilmu agamanya masyaAllah. Kiprahnya di organisasi sosial pun membuat kagum banyak orang. Nirmala dan beberapa temannya menginisiasi program makan siang gratis untuk anak-anak kecil binaan mereka. Dan saat bulan Ramadhan seperti saat ini, ia tak pernah absen membagikan makanan untuk berbuka puasa atau sahur.


Tapi ada satu hal yang selalu membuat kami teman dekatnya semakin kagum. Di antara semua penilaian sempurna yang Nirmala dapat dari banyak orang, ia tetap menjadi dirinya sendiri di hadapan kami sahabatnya dan juga keluarganya. Seperti sore ini, ia panik saat hendak pulang. Ia mengitari seluruh ruang kuliah dan membongkar tasnya. Kami yang melihatnya juga ikut bingung.

"Mala kamu cari apa?" tanya Dina. 

"Ini Din, aku kehilangan daftar penerima bantuan yang sudah kususun semalam. Seingatku pagi tadi sudah aku masukkan tas untuk diserahkan ke donatur sore ini," jawab Mala.

"Coba diinget lagi La, mana tahu tertinggal di rumah," kataku.

Dia mengambil handphonenya dan menekan layarnya. Tapi tak lama nada dering berbunyi. Nirmala mengangkatnya.

"Iya pak, betul. Oh sudah disetujui. Memangnya dokumen sudah saya serahkan ya pak? Pagi tadi? Astaghfirullah saya lupa pak. Pantas saya cari tidak ketemu. Baik pak terima kasih sekali atas bantuannya. Kami akan berikan report pembagian bantuan kepada bapak. Sekali lagi terima kasih pak." Nirmala nampak mengakhiri pembicaraan.


Sesaat setelah Nirmala menutup percakapannya. Kami bertiga tertawa dan Nirmala juga tergelak. Iya kejadian seperti ini beberapa kali terjadi. Iya, Nirmala pelupanya ampun banget. Jadi kami yang menjadi support systemnya harus bisa memahaminya. Untungnya ia sadar itu, dan berusaha mengurangi dampak pelupanya dengan rajin menulis jurnal catatan. Tapi ya ada kalanya ada yang terlewat seperi kali ini. 


"Sepertinya aku harus minum vitamin otak lagi deh ya, biar ga terlalu pelupa." tukasnya.

"Kamu keseringan makan brutu ayam kali," selorohku disambut gelak tawa kami semua. 

"Mana ada aku makan brutu ayam, kalo usus iya." Jawabnya ringan.

"Ya gak apa apa La, masih untung Allah SWT mengurangi sedikit kesempurnaanmu. Ya kaaan... kalau ga, mana udah cakep, pinter, shalihah udah sesempurna itu. Jadi biar kita diingetin, kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT. Betul apa betullll," kata kata Ratih membuat kami tertegun dan merenung.

Tiba-tiba Nirmala memeluk kami bertiga, "MasyaAllah alhamdulillah terima kasih yaaa sudah menjadi sahabat-sahabat terbaikku. InsyaAllah kita terus barengan sampai ke Jannah ya sayang sayangku. Sekarang mau kan bantuin aku bagi-bagi takjil," kami bertiga pun tersenyum satu sama lain dan mengangguk.



#RWCODOPDay14

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Nirmala Tak Harus Sempurna

Tabuhan Penyelamat Sahur


Berasa gak sih, kalo awal-awal puasa Ramadhan, kita tuh masih semangat banget bangun sahur lebih awal. Tapi kalo sudah pertengahan sudah agak malas-malasan. Hal yang sama dirasakan oleh Danti. Ia yang tinggal di kamar kontrakan 3 petak di daerah padat penduduk di Jakarta, merasakan penurunan semangat sahur.

Seperti malam itu, ia pulang kerja lembur sampai di kontrakan jam 10 malam. Badannya remuk redam, ingin sekali langsung membuang tubuhnya ke kasur. Tapi mengingat badannya yang lengket karena keringat dan juga rambutnya yang lepek. Danti menguatkan tubuhnya untuk masuk kamar mandi dulu. Air dingin yang keluar dari shower membasahi dan menyegarkan tubuhnya. Sayangnya rasa kantuk dan pegalnya belum juga hilang. 

Setelah mandi, mengganti baju dan mengeringkan rambutnya, Danti pun mengecek alarm jamnya. Oke sudah, ia memasang 1 jam sebelum imsak. Dan iapun lanjut tidur.

***

Sahuuur... Sahuuur... Banguuun Sahuuur.. Sahuurr

Teriakan anak remaja di kampungnya yang lewat depan kontrakannya terdengar nyaring bertalu-talu. Danti seketika terbangun dari tidurnya. Ia panik dan melihat jam di meja kamarnya. "Astaghfirullah kurang 15 menit lagi imsak," Danti seketika menuju dapur dan menyiapkan sahur ala kadarnya. Ini kali pertama di Ramadhan kali ini, ia terbangun mepet waktu sahur dan imsak. Akhirnya kali itu ia membuat menu makan sahur yang simple. Mi instant dan telor ceplok. Tak lupa minum suplemen vitamin D dan C yang ia minum setiap hari. 

"Alhamdulillah ada tabuhan dari akamsi tadi, jadi aku terbangun meskipun terlambat. Masih sempat sahur walaupun mepet banget waktunya," ucap Danti. 

Keesokan harinya, saat ia libur kerja. Danti menyiapkan paket makan buka puasa untuk anak anak remaja masjid di kampungnya. Sebagai ucapan syukurnya karena mereka menyelamatkan Danti dari terlewat waktu sahur. 

Untung saja di daerah kontrakan Danti, anak remaja masjidnya masih aktif. Padahal banyak daerah di Jakarta yang sudah tak lagi melakukan tradisi tabuhan saat sahur. Anak remajanya lebih sibuk tawuran atau tidak aktif di kegiatan masjid.


#RWCODOPDay13

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Tabuhan Penyelamat Sahur

Saturday, March 23, 2024

Karya Sunyi

Siapa yang tak bangga jika namanya tertera sebagai penulis berbagai karya sastra laris di Indonesia. Nama besar penulis perempuan seperti Dee Lestari, Leila S Chudori, Ratih Kumala, Ruwi Meita, Ayu Utami, dan lain lain tentu jadi panutan semua penulis pemula. Tak terkecuali Rania. 

Tapi berbeda dengan penulis lain, Rania selama ini menulis dengan menggunakan nama pena. Ia menekuni dunia menulis sejak di bangku SMA, berarti itu sudah sejak 7 tahun lalu. Mulai dari menulis di surat kabar lokal dan nasional, majalah, menerbitkan buku antologi, buku indie, hingga di masa maraknya platform menulis online. Rania menekuni dunia menulis dan mencoba semua media tetap konsisten menggunakan nama pena. 

Bahkan yang menjadi bahan tertawaan dirinya sendiri, sahabatnya sendiri sangat menyukai cerita yang ditulisnya di platform menulis online, berkali-kali memuji cerita yang dibacanya di hadapan Rania tanpa tahu yang di hadapannya adalah penulisnya.

Seperti siang itu, Rania menerima email undangan dari salah satu platform menulis untuk hadir sebagai pembicara talkshow di sebuah cafe. Dia membalas email itu dengan permohonan maaf karena tidak bisa hadir, dia hanya bisa hadir melalui online seperti biasa. Tanpa ia harus menunjukkan diri. Tak lama setelah ia mengirim emailnya, handphone Rania berbunyi. Setelah menyapa, Rania nampak berbincang 

"Iya kak, mohon maaf seperti yang saya sampaikan di email. Saya bersedia hadir asalkan tidak harus menunjukkan diri. Bukan bermaksud untuk mengeksklusifkan diri, tapi ini sudah komitmen saya saat terjun di dunia kepenulisan. Pembaca hanya perlu tahu karya saya saja. Mohon bisa dipahami," jelas Raina.

Begitulah ia, berproses menjadi penulis dengan konsisten menulis, membagikan ulasan buku di sosial medianya, tapi tetap anonim. Pembaca dan audiens sosial medianya hanya tahu nama penanya, La Luna.

***

Setahun kemudian, novel tulisan La Luna jadi salah karya best seller nasional. Pembaca tidak hanya tertarik dengan ceritanya yang menarik tapi juga pada anonimitas La Luna. Ia sama sekali tak pernah muncul di publik. Di event perbukuan, diskusi, ataupun launching karyanya. Bahkan hingga berhasil menerbitkan karya di penerbit mayor pun, ia konsisten menjaga komitmennya tetap anonim dan hanya membiarkan karyanya yang muncul. Meskipun dirinya sunyi dari publisitas, tapi karyanya cukup berisik di tengah tengah pembaca dan dunia perbukuan.



#RWCODOPDay12

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

Continue reading Karya Sunyi

Friday, March 22, 2024

Damar dan Geng Sanlatnya

Siapa yang masa kecilnya pernah ikut pesantren kilat di sekolah? Sepertinya hampir semua pernah merasakannya masa-masa menyenangkan itu. Rata-rata 3-7 hari kan yah pesantren kilatnya. Bahkan ada beberapa sekolah yang betul-betul mengajak siswanya ke pondok pesantren tertentu untuk merasakan atmosfer Ramadhan yang berbeda. Apa yang kita ingat tentang memori pesantren kilat dulu? Melakukan kegiatan bergembira dengan teman-teman atau malah penuh manyun menjalaninya. Kalau jawabannya adalah diisi dengan kegiatan yang seru dan menyenangkan berarti sama yang dirasakan oleh Damar dan teman-temannya.

Damar dan teman-teman sekolahnya akan menjalani pesantren kilat di sekolah selama 3 hari. Mereka menginap di sekolah selama 3 hari, menjalankan ibadah dan kegiatan sehari-hari bersama. Masing-masing tingkatan kelas bergantian menjalani pesantren kilat di hari yang berbeda. Dan pesantren kilat ini adalah kali pertama bagi Damar yang masih kelas 1 SD. 

Hari-hari sebelum pesantren kilat, Damar merengek ke bapak ibunya. Ia tidak mau menginap di sekolah. 

"Damar ga mau pesantren ibuuuu. Damar mau di rumah ajaaaa," rengek Damar. Ibunya hanya tersenyum melihatnya.

Ibu Damar kemudian mendekatinya, duduk di sampingnya dan memeluk Damar sambil mengusap kepalanya. 

"Damar kan katanya pengen hafal Al Quran nak, bener kan? Anggap aja ini kesempatan Damar untuk menghafal lebih fokus. Lagipula percaya deh sama ibu, nanti Damar di sana ketemu teman-teman pasti seneng," kata ibu menjelaskan. Damar masih merajuk ke ibunya bahkan saat bapaknya datang.

***

Di hari pesantren kilat, bapak dan ibu secara khusus mengantarkan Damar ke sekolah. Perbekalan secukupnya sudah disiapkan ibu sesuai ketentuan dari sekolah. Sejujurnya, Ibu Damar juga khawatir melepas anaknya. Tapi ia tidak menunjukkanya di hadapan anak kesayangannya. 

Dari jauh ibunya melihat Damar yang tadinya berjalan menunduk dan murung berubah ceria saat bertemu teman-temannya. Melihat itu ibu Damar pun tersenyum.

***

Setelah berbuka puasa, ayah dan ibu Damar berusaha menghubungi wali kelas Damar. Setelah bercakap-cakap sebentar, panggilan suara berubah menjadi panggilan video. Nampaklah suasana riuh di kelas. Terlihat Damar yang bercanda dengan teman-temannya sambil berbuka puasa. Tidak ada lagi wajah cemberut yang pagi tadi menghiasi wajahnya. Ibu Damar lega, paling tidak Damar punya pengalaman baru yang menyenangkan dengan teman-temannya di pesantren kilat.




#RWCODOPDay11

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

Continue reading Damar dan Geng Sanlatnya
,

Kehidupan Setelah "Akhir Dunia"

Out of Control || N. Betty || Bhuana Sastra ||  Mei 2023 || 252 halaman || Baca di @gramediadigital

Rate : 5/5 ⭐

Jangan mencampuri urusan Tuhan, Nak. Manusia memang harus berusaha, semaksimal mungkin yang mereka bisa.

Tapi, ada hal-hal yang lebih baik tidak dicampuri. Kadang manusia tidak menyadari bahwa perbuatannya sudah terlalu jauh mencampuri kuasa-Nya. 

---

Mungkin ada di antara kita yang membayangkan bagaimana kehidupan setelah "akhir dunia". Kehidupan bagaimana yang akan dilalui setelah asteroid menghujam bumi seperti masa dinosaurus dulu. Apakah semua manusia musnah? Kurang lebih itu adalah ide yang yang coba diusung novel Out of Control karya N. Betty ini. 

Peristiwa tabrakan asteroid ke bumi sudah dapat diperkirakan oleh ilmuwan di masa itu. Termasuk ayah Jezamorc, Korav Minns, yang merupakan peneliti terkemuka di Metronesia. Diceritakan saat itu bumi tidak seperti sekarang. Efek mencairnya es di bumi mengakibatkan permukaan laut naik, beberapa daratan benua hilang. Sebagian menyatu membentuk koloni benua dan negara baru. Metronesia adalah negara koloni baru yang terbentuk dari peristiwa itu. 

Menariknya saat awal-awal membaca novel ini, memori otak saya seperti menggabungkan scene scene di film 2012 tentang kiamat itu juga dengan isu global yang menyebut banyak konglomerat dunia tengah menyiapkan bunker di beberapa lokasi. Di novel ini digambarkan orang-orang tertentu mendapatkan privilege untuk diselamatkan menuju bunker yang disebut area 427-B. Keluarga Jez adalah salah satu yang mendapatkan privilege itu.

Peristiwa tabrakan asteroid itu tidak hanya menghancurkan sebagian dunia tapi juga dunia Jez. Ayahnya yang seorang peneliti meninggal di laboratoriumnya karena bunker labnya hancur. Setelah mereka akhirnya bebas keluar dari bunker untuk memulai hidup baru, Jez juga kehilangan ibunya.

Novel ini menggambarkan perjuangan Jez sebagai peneliti untuk menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit ibunya, alzeimer. Tapi di antara perjuangannya itu banyak yang ia korbankan. Fase-fase grief juga terlihat pada karakter Jez. Apakah pada akhirnya ia menemukan obat alzheimer bagi ibunya? Menarik untuk dibaca.

Penulis berhasil menghadirkan cerita dan latar cerita yang menurut saya tidak biasa. Imajinasi pembaca dibawa melanglang buana ke dunia baru. Gaya penceritaanya juga menarik, tema-tema berat yang dihadirkan dengan cara yang menarik dan ringan untuk dibaca. Penyuka cerita fantasi atau science fiction pasti suka karena ada alternatif novel karya penulis Indonesia.


Continue reading Kehidupan Setelah "Akhir Dunia"

Thursday, March 21, 2024

Payung Hitam


14 Mei 1998

Hari itu dimulai seperti hari-hari biasanya. Ibu tengah sibuk memasak di dapur, ayah memanasi mobil di depan. Tidak ada yang berbeda dari hari sebelumnya. Tapi wajah mereka menyiratkan berbeda. Raut kecemasan di wajah ayah, ibu, juga Arga yang baru keluar kamar tampak jelas.

Sayup-sayup terdengar berita dari televisi. Beberapa aksi massa dan kerusuhan terjadi di ibukota dan beberapa kota lainnya di Indonesia. Ibu menolehkan pandangan ke arah televisi. Nampak ayah ternyata sudah duduk menyimak liputan itu di televisi.

"Arga, menurut ayah lebih baik kamu di rumah saja hari ini. Ayah tidak mau ambil resiko kalo kamu terluka saat aksi nanti," kata Ayah sambil terus menyimak berita.

Arga yang tengah duduk di meja makan terdiam. Ia menyuap nasi goreng buatan ibu yang hari itu entah mengapa begitu lezat. "Pelan-pelan makannya nak, kalau kurang tambah saja nasinya," kata ibu sambil mengelus rambut Arga. Arga pun tersenyum pada ibu.

"Tapi Yah, gerakan hari ini yang menentukan perjuangan kami selama ini. Izinkan Arga berangkat ya Yah. Arga janji akan jaga diri. Begitu situasi tidak terkendali, Arga akan mundur," kata Arga berusaha meyakinkan Ayahnya.

Mendengarnya, Ayah Arga lama memandangi wajah anak satu-satunya itu. Pandangan Ayah Arga lantas berpindah ke istrinya yang jelas menampakkan raut khawatir. Ia lantas menghembuskan nafas panjang. Ia menguapkan segala kekhawatirannya. 

"Pastikan jaga diri baik-baik ya nak. Jangan memprovokasi atau terprovokasi. Kamu tahu, suasananya saat ini tengah genting kan. Pergilah dan pulang dengan keadaan baik-baik saja," ayah Arga akhirnya mengizinkan anaknya pergi. Arga pun berpamitan dengan ayah ibunya. Ia pergi mengendarai motor kesayangannya Honda Supra X 100. Ayah dan ibunya memandangi punggung Arga saat ia pergi hingga menghilang di tikungan jalan.

****

Perempuan tua itu nampak kuyu dengan pandangan sayunya menatap kosong ke jalanan di depan rumahnya. Payung hitam yang ia bentangkan menutupinya dari gerimis malam itu. 

"Mengapa kamu tidak pulang-pulang nak, ibu menunggumu datang. Ibu sudah siapkan masakan kesukaanmu nak. Ayahmu telah pergi mendahului ibu, bahkan hingga di nafas terakhirnya namamu yang disebutnya. Kemana lagi ibu menanyakan keberadaanmu nak? Aksi Kamisan kami pun sepertinya hanya dianggap tarian boneka tanpa arti. Padahal ibu dan keluarga lainnya hanya ingin bertanya keberadaanmu juga orang-orang hilang lainnya. Kalau memang kamu sudah tiada, ibu ikhlas nak, asalkan mereka bisa tunjukkan dimana jasadmu dikuburkan. Tapi tenang saja Arga anakku, ibu akan bertahan menunggumu selama nafas ini masih terhembus." 


#RWCODOPDay10

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Payung Hitam

Wednesday, March 20, 2024

Asal Bukan Gemini?


Suasana kantin di SMA 101 nampak riuh seperti biasanya di jam istirahat. Para siswa nampak duduk saling berkelompok. Mereka bercanda, makan, dan saling bertukar gosip mungkin. Termasuk Dea dan teman temannya.

Semangkok seblak yang menggugah selera nampak siap disantap Dea.

"Eh kalian pada tahu ga ada anak baru loh. Tadi gue lihat dia ama ibunya jalan ke ruang kepsek," cerocos Mila.

"Sok tau lu, mana tahu cuma tamu kepsek doang." sanggah Dian.

Dea nampak sibuk dengan seblaknya. Sementara dua temannya itu nampak sibuk mempertahankan argumen. 

"De, lu diem bae. Ga minat ama anak baru?" tanya Mila.

"Absurd lu Mil, mana gue tahu mau minat apa kagak. Lihat aja belom. Lagian alesan aja lu pake nanya gue minat apa gak. Palingan ntar lu embat sendiri," jawabku sambil asik menyeruput kuah seblak yang pedesnya gila.

"Gak, kali ini gue kasih kesempatan lu maju. Mana tahu predikat jomblo abadi lu berakhir," tukasnya.

"Hahahha bener ya. Tapi ogah ah, pastiin dulu bukan Gemini. Kalo Gemini gue mundur aja," selorohku.

"Lah lok mundur?" Tanya Dian.

"Gemini ribet, bakal makan ati gue kalo ama gemini." Jawabku singkat.

"Hahahaha lu percaya teorema astrologi gitu? Kirain gue lu ga percaya zodiak." Jawab Dian kemudian.

"Gaya lu pake bahasa teorema segala. Trauma ama Gemini sih Dea mah. Tau sendiri menurut teorinya Gemini selalu tebar pesona ke sana sini," jelas Mila yang disambut anggukan Dea. 

"Pokoknya asal bukan gemini, gue pepet dah gass terus," jawabku mantap.

****

Dea nampak berlari lari mengejar waktu sebelum gerbang sekolah dikunci. Dari kejauhan pak Dirman sudah nampak merapatkan gerbang. Ia menambah kecepatan larinya. Gara gara kesiangan Dea jadi ngos ngosan kejar kejaran waktu. Dea melihat ada siswa yang baru datang, turun dari mobil. Siswa itu berdiri di depan gerbang dan menahan gerbang untuk tidak dikunci. Ia nampak berbicara dengan pak Dirman. 

Tepat di depan gerbang, nafasnya 1-1. 

"Tumben telat mbak Dea?" Tanya pak Dirman.

"Iya pak kesiangan, semalem pulang malem banget abis nonton konser." Jawab Dea sambil melirik siswa tadi. 

"Thank you ya" katanya pada siswa yang menahan gerbang tadi. Disambut senyuman dan anggukan.

Dea berjalan menuju kelas. Tiba-tiba siswa tadi menyusul langkahnya dan menghadangnya.

"Kenalkan aku Reno, kamu Dea?" katanya sambil menjulurkan tangan. Disambut jabatan tangan oleh Dea.

"Lu anak baru?" tanya Dea sambil memperhatikan Reno. 

"Iya aku baru pindah." Jawabnya.

'Gila cakep banget. Jefri Nicol mah kalah ini mah' pikir Dea. Eh tapi bentar. 

"Zodiak lu apa?" tanya Dea.

"Kenapa memang? Aku Gemini," jawab Reno. Alarm Dea berbunyi mendengar jawaban Reno.

'Duh skip atau lanjut nih?' Dea terus memikirkannya sambil jalan menuju kelas. Reno nampak bingung melihat Dea ngeluyur jalan setelah mendengar jawabannya. 'Emang kenapa kalo gemini? Salah?' Pikir Reno.



#RWCODOPDay9

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Asal Bukan Gemini?

Takjil Pertama Rea


Mungkin salah satu anak yang paling semangat menyambut Ramadhan kali ini adalah Rea. Bagaimana tidak, setelah tahun lalu dan tahun sebelumnya bunda tidak mengizinkan Rea puasa, kali ini berbeda. Bunda membolehkan Rea ikut berpuasa Ramadhan. Tapi dengan term & condition yang panjang. T&C yang bagi anak umur 9 tahun tentu tidak akan dipikirkan. Yang Rea tahu adalah kali ini ia bisa ikut puasa di bulan Ramadhan.

*** 

Rea nampak bolak balik dari ruang tamu ke dapur. Bunda akhirnya sadar putri kecilnya seakan tidak sabar menunggu buka puasa. 

"Sayang, mau bantu bunda buat takjil?" tanya bunda.

"Hah boleh bund? Mau Rea mau bantu. Bunda buat takjil apa?" jawabnya semangat.

"Bunda buat kolak, bolu, juga es timun serut. Rea mau bantu bunda ngapain?" Tanya hunda lagi.

"Bantu bunda serut timun bisa?" Pertanyaan bunda dijawab anggukan oleh Rea. Tak lama iapun tenggelam dengan kesibukan memarut timun sesuai instruksi bunda.

***

Suara bedug dan adzan terdengar dari masjid. Nampak ayah, bunda, bang Abi, dan Rea sudah duduk mengelilingi meja. Hidangan yang disebutkan bunda tadi sudah tersaji di meja. 

Rea nampak sumringah dan tidak sabar membatalkan puasanya dengan takjil yang dimasaknya dengan bunda. Eh bukan, yang dimasak bunda dan ia membantu sedikit sedikit. Hehehe.

"Rea hebat loh ayah, ini es serut timun Rea yang buat." Puji Bunda. Rea yang mendengarnya hanya senyum senyum.

"Waah buatan Rea, pantesan enak banget manis segar," Ayah pun turut memuji.

"Bentar lagi Rea buka tuh jualan takjil depan komplek hahaha" disambut tawa semuanya. Rea juga tertawa tapi manyun dulu mendengar olok olok bang Abi.

Takjil pertama buatan Rea berhasil sepertinya. Sepertinya dia tidak sabar membantu Bunda di hari hari berikutnya.



#RWCODOPDay8

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Takjil Pertama Rea

Kurma I'm in Love

Entahlah, kalau mendengar kata kurma dan melihat bentuknya aku merasa geli. Sejak dulu juga, kalau sunnahnya membatalkan puasa dengan 3 butir kurma, aku selalu mencari alernatif lain untuk berbuka puasa. Entah kenapa, mencium aroma kurma saja sudah mual aku dibuatnya.

Sampai mama pun bingung mengapa anaknya satu ini begitu gak sukanya ama kurma. Pernah waktu itu, mama mencoba menyamarkan kurma dijadikan campuran cake. Tapi masih saja aku bisa merasakannya. Alhasil cake itu tak tersentuh sedikitpun. 

Hingga suatu hari, kami sekeluarga mendapat rezeki dipanggil ke tanah suci. Selain ibadah, papa mama mau mengenalkanku pada sahabat mereka yang sudah lama bermukim di Madinah. Di sela sela ibadah, kami sekeluarga pun diundang berkunjung ke rumah mereka.

***

Begitu kami sampai di kediaman teman Papa Mama, aku dibikin takjub. Bukan apa-apa, karena rumah mereka dikelilingi oleh hamparan kebun kurma. Juga ada bagian bangunan yang digunakan sebagai toko kurma. 

Kepalaku mendadak pening melihat banyak sekali kurma. Kami pun disambut dengan hangat. Aku diperkenalkan ke anggota keluarga Pak Abdul, teman Papa Mama. Dan, mataku tertumbuk pada seseorang. MasyaAllah... Seketika aku menundukkan pandangan.

Reaksiku itu tak luput dari perhatian Papa. Beliaupun tersenyum.

Kami berbincang di ruang keluarga kemudian. Tiba-tiba Ahmad, laki laki yang tadi membuatku menundukkan pandangan, mendekat ke arah kami membawa sepiring kurma. 

Saat sudah mendekat denganku, "Eh Sarah gak..." kata kata mama seketika terhenti saat melihatku mengambil kurma. Kemudian mama tersenyum simpul.

"Terima kasih," kataku tak lama menggigit kurma yang aku ambil.

***

Impianku menikah di hadapan Ka'bah akhirnya terwujud. Siapa sangka aku dan Ahmad melaksanakan ijab qabul beberapa hari setelah pertemuan malam itu. Jodoh dari Allah SWT memang tidak terduga. Di Tanah Suci ini aku tak hanya mendapat jodoh tapi juga memakan kurma untuk pertama kali.



#RWCODOPDay7

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

Continue reading Kurma I'm in Love

Tak Cukup Hanya Menangis


Kalau tidak karena bunda memohon untuk pulang Lebaran tahun ini, aku tentu akan memilih untuk membelikan tiket ke Jakarta saja untuk bunda. Aku sudah kehabisan alasan untuk mengelak. Bunda secara khusus meminta aku pulang karena tahun ini giliran rumah kami yang membuat open house. Selama ini, tahun-tahun kemarin, aku memilih pulang di H-3 Lebaran dan hanya mengajak bunda liburan. Tapi kali ini aku tak berkutik. 

Membayangkan di sana akan ada wajah yang paling kubenci di dunia. Wajah seseorang yang kalau bisa aku ingin menyiksanya dengan tanganku sendiri sampai dia memohon untuk mati saja. Seseorang yang menghujamkan trauma terlalu dalam sejak perlakuan durjananya padaku saat itu. Perlakuan yang bahkan oleh anggota keluarga lain dianggap perlakuan iseng. Iya hanya iseng kata mereka. Bahkan Bunda memintaku memaafkan orang itu begitu saja, hanya karena beranggapan kala itu suaminya melakukannya karena gemas dan sayang padaku, sebagai anaknya sendiri. Alasan yang  kala kuingat sekarang sangat konyol.


Karena kemuakanku itu pulalah yang membuatku melanjutkan kuliah di Jakarta dan memilih tinggal jauh dari mereka. Mulai menata hidupku sendiri, merencanakan masa depan, dan membangun semua mimpiku. Aku melampiaskan amarahku dengan mencetak banyak prestasi, keras pada diri sendiri. Hidup mandiri tanpa meminta sepeserpun uang dari Bunda dan suaminya. 


Aku pernah menangis ketakutan saat laki-laki itu melakukan hal durjana itu padaku. Tapi tangisku hanya dianggap angin lalu. Maka, aku memutuskan untuk tidak lagi menangis sejak keluar dari rumah. Kata orang bijak, balas dendam terbaik adalah dengan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Dan itu yang kulakukan.

Apa tahun ini aku harus pulang demi bunda? 

Tak lama, handphone di tanganku bergetar. Bunda menelpon.

"Rana, kamu pulang kan nak? Bunda mohon pulang ya sayang," kata bunda dari seberang sana. Aku menghela nafas mendengar suara bunda.

"Rana pulang bund, tapi hari kedua ya bund," jawabku.

"Pulanglah sebelumnya nak, bunda rindu." Tukas bunda.

"Bunda, Rana belikan tiket umroh ya. Kita lebaran di Mekah. Rana siapkan semuanya buat bunda," kataku.

"MasyaAllah makasih nak, tapi Rana tidak bisakah kamu pulang saja?" Ucap bunda lirih.

"Maaf bund, bunda tahu alasannya. Rana tidak bisa satu ruangan dengan laki laki itu. Rana tidak bisa bernapas di udara yang sama dengan dia. Rana harap bunda mengerti. Tanggung jawab Rana hanya pada bunda, bukan yang lain," bunda hanya mendesah lirih dan menyetujui ajakanku.

Maaf bunda, luka itu masih terlalu basah bahkan setelah bertahun tahun.

***


#RWCODOPDay6

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Tak Cukup Hanya Menangis

Saturday, March 16, 2024

Hidangan yang Lebih Berharga dari Apapun


Entah apa yang membuat banyak orang terpesona untuk mengadu nasib di ibukota? Lalu lintasnya yang hampir selalu padat, orang-orangnya yang seakan berkejaran terus dengan waktu, udara yang kadang pekat dengan polusi, tawuran remaja di beberapa titik, demo di mana mana. Di antara semua cerita suram itu, Jakarta masih menawarkan madu yang membuat banyak lebah pekerja terpikat. Termasuk Dyandra. 

Sudah hampir lima tahun ia menjadi lebah pekerja di ibukota. Ia tak lagi kikuk dengan kecepatan jalan orang orang di Jakarta. Berlari melintas koridor halte transjakarta atau berjalan cepat berebut masuk KRL. Dya, juga akhirnya ikut terbawa dengan kebiasaan yang serba cepat itu hingga terbawa di dunia kerjanya. 

Seperti sore itu, Dyandra masih berkutat dengan pekerjaannya bersama beberapa rekannya. Dya masih sibuk membaca dokumen dan membalas email. Memastikan setiap pekerjaannya tuntas. Hingga handphonenya berdering.

"Assalamuallaikum Ma, kakak masih di kantor ino, ada apakah?" Tanyanya.

"Waalaikumsalaam nak, sudah mama duga kamu pasti masih di kantor. Mama kirim makanan ke kantor pakai paxel buat kakak buka puasa. Infonya sudah sampai di lobby. Kakak cek ya ke bawah," kata mama dari seberang disambut senyuman Dyandra. Rupanya mama tahu apa yang dari kemarin ia rindukan. Berbuka puasa dan bersama mama papa dan adek di awal masa puasa Ramadhan adalah momen yang paling ia dambakan semenjak merantau. 

"Mamaaaa makasih Ma, kakak sayang mama. Ini kakak ambil ke bawah ya Ma. Nanti kakak telpon lagi," Dya berkata kemudian bergegas turun ke lobby. 

***

Adzan Maghrib

Dyandra masih di kantor saat buka puasa Ramadhan pertama. Di mejanya ada paket makanan dari mama. Ia membukanya, ada rendang, kering tempe, suwir ayam, perkedel kentang, semua lauk kesukaan Dyandra.

"Maaa makasih ya maaa, iyaa nanti kakak taruh freezer dan panaskan kalo mau makan. Kakak berasa bisa buka bersama makan langsung di sana sama mama dan semuanya. Makasih ya ma, sehat sehat. Kakak sayang mama," ia menutup percakapannya dengan menyeka airmatanya sambil memandang semua lauk masakan mamanya.

***


#RWCODOPDay5

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Hidangan yang Lebih Berharga dari Apapun
,

Malam Terakhir; Kumpulan Cerpen Slice of Life yang masih relevan dibaca kekinian.


Malam Terakhir || Leila S. Chudori || @penerbitkpg || Desember, 2020 || 117 halaman
Rate : 5/5 ⭐

Kumpulan cerpen berjudul Malam Terakhir karya Leila S Chudori ini sungguh menarik. Pertama kali diterbitkan tahun 1989 dan kemudian reborn di tahun 2009. Di kelahirannya kembali, penulis menunjukkan bahwa baik cerita dan isu yang diangkat masih relevan dibaca bahkan setelah berpuluh tahun kemudian.

Terdiri dari 9 cerpen yang menangkap berbagai sudut kehidupan manusia, mulai dari cerita keluarga yang anaknya mengalami depresi atas perlakuan ibunya dalam cerpen berjudul Adila. Hingga cerpen yang menceritakan keliaran imajinasi dan perilaku tokoh tokohnya di cerpen Air Suci Cita. Atau bahkan yang menangkap isu kebangsaan di cerpen Malam Terakhir.

Meskipun diksinya masih kental dengan bahasa yang harus dicerna lebih dalam, tapi masih menarik untuk dibaca. Detail detail latar dan referensi bacaan bacaan lain yang disisipkan menambah kaya penceritaan di kumpulan cerpen ini. Meskipun dari ide cerita pun sudah kaya.

Meskipun bukunya relatif tipis halamannya, kumpulan cerpen ini tidak cukup dibaca dalam sekali duduk. Selamat membaca dan liarkan imajimu.


Continue reading Malam Terakhir; Kumpulan Cerpen Slice of Life yang masih relevan dibaca kekinian.

Friday, March 15, 2024

Evaluasi; Saat Jeda untuk Melangkah Lebih Jauh


"Without proper self-evaluation , failure is inevitable" - John Wooden 

Pernah merasa bingung dengan tujuan hidup? Melakukan semua hal hanya karena rutinitas hidup saja, pernah? Atau, pernah ga merasa kok kita ga sampai sampai yah ke goals yang kita tuju. Terasa jalannya berputar putar atau makin rumit. Kalau jawabannya iya, maka sepertinya kita memerlukan evaluasi diri atau hidup kita. 

Di era sekarang, banyak sekali kita temukan hal yang bisa mendistraksi kita dari tujuan hidup atau goals yang kita tetapkan. Itu yang mungkin bisa membuat kita stuck dan tidak mencapai goals yang kita inginkan. 

Lantas, apakah perlu evaluasi diri? 

Evaluasi diri itu salah satu bentuk self awareness. Ini merupakan kemampuan diri kita untuk melalukan proses refleksi dan instropeksi. Melakukan evaluasi diri juga dianggap menempatkan diri secara objektif dalam menilai perjalanan hidup bahkan pencapaian diri. Jadi jika ditanya, perlu atau tidak, jawabannya tentu perlu. 

Dengan melakukan evaluasi diri, kita bisa secara objektif melihat kekurangan dan kelebihan diri, kesalahan yang mungkin telah dilakukan, meningkatkan potensi diri, dan pada akhirnya kita bisa memetakan secara jelas arah dan tujuan hidup kita. 

Salah satu cara melakukan evaluasi diri yang paling mudah dilakukan adalah journaling. Menulis jurnal setiap hari sangat membantu dalam proses evaluasi diri. Karena, dengan journaling kita bisa menuliskan rencana atau target harian, tantangan atau kesulitan, dan pencapaian hari itu. 

Evaluasi diri itu ibarat jeda sejenak untuk menyiapkan diri agar bisa melangkah lebih jauh. Jika kita lengah enggan melakukan evaluasi diri, mungkin saja hidup kita berjalan saja sebagaimana mestinya. Hanya saja, impactnya akan tidak maksimal kita rasakan. Hidup seakan kita hanya sekedar hidup. 

Semoga bermanfaat

Saranghae, Nunna


#RWCODOPDay4

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Evaluasi; Saat Jeda untuk Melangkah Lebih Jauh

Bunda, Adek Pulang


Pernah ga sih kamu merindukan masa masa kecil? Sepertinya bagi anak rantau, bulan Ramadhan adalah masa-masa kita paling sering merindukan masa kecil. Masa-masa masih berkumpul dengan keluarga. Rasa rindu yang sama dirasakan Ariana yang saat ini berjarak ribuan km dari kota masa kecilnya. Tepatnya 5,194 km.

Sejak ia memutuskan mengejar beasiswa untuk lanjut kuliah di Seoul Cyber University, Ariana sudah tahu konsekuensinya bahwa mungkin ia tak bisa selalu pulang ke Indonesia saat rindu. Tapi, ia berjanji pada ayah bundanya akan mengusahakan pulang saat Lebaran. Tapi, realita berkata lain, di tahun pertama dia menginjakkan kaki di Seoul, ia tidak bisa pulang ke Indonesia karena pandemi Covid 19 melanda dunia. Pun, pada tahun selanjutnya,  ia tidak bisa pulang juga karena ia terpapar virus corona varian baru. Ariana sempat putus asa, karena hanya bisa berkomunikasi via video call dengan orang tuanya saat Ramadhan dan Lebaran kala itu. 

Namun, hingga tahun terakhirnya kuliah, Ariana tetap tidak bisa pulang. Ada saja, yang membuat langkahnya tertahan. Masalah dana, studi, pekerjaan magangnya, dan entah alasan lainnya. Ayah dan Bunda terus membesarkan hati Ariana meskipun ia tahu ada kedukaan yang Ariana rasakan setiap mendengar suara ibu. 

Kerinduan yang membuncah pun ia rasakan Ramadhan kali ini.Apalagi saat tadi dia duduk di selasar masjid Itaewon setelah selesai sholat tarawih. Ariana melihat ibu dan anak tengah membaca kitab suci Al Quran. Ingatannya langsung terlempar saat ia masih di Surabaya. Tiap Ramadhan lepas Tarawih, adalah saat ia dan keluarganya berkumpul untuk membaca Al Quran bersama. Ariana dan keluarga bergantian membaca A Quran dan ditutup dengan nasihat dari Ayah. Meskipun tidak lama, hanya sekitar 30 menit, tapi kebersamaan sejak ia kecil itu masih ia kenang. Sesibuk apapun ayah bunda, pasti buka puasa hingga tadarusan di rumah. Mengingat itu Ariana menitikkan air mata. Ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya dan bangkit dari duduknya. 

***

Di sebuah restoran ayam, Ariana membuka gawainya dan meneliti schedule magang serta jadwal kuliahnya. Ia, mencoba menghubungi orang beberapa kali. Raut wajahnya nampak serius, keningnya berkerut. Tidak lama ia nampak menangis. "Alhamdulillah Ya Allah" ucapnya. 

Ariana masih sibuk dengan mengisi form di beberapa aplikasi. kemudian ia menekan icon whatsapp, ia mencoba menghubungi sebuah nomor. 

"Assalamuallaikum bunda, adek pulang. InsyaAllah. Doakan semua lancar ya bund," ucap Ariana. Disambut tangisan bunda dari seberang sana. 


#RWCODOPDay3

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024
Continue reading Bunda, Adek Pulang

Thursday, March 14, 2024