Sunday, January 18, 2026

Hidup Bersama Raksasa; Bentuk Dominasi Korporasi dan Pemerintah pada Masyarakat Sekitar




Hidup Bersama Raksasa, manusia dan Pendudukan Perkebunan Sawit  || Penulis : Tania Murray Li & Pujo Semedi || Penerjemah : Pujo Semedi || @marjinkiri ||Cetakan Kedua, Februari 2025 || 362 halaman 

Rate : 5/5 ⭐


"Apa itu perkebunan?" 


Bagi Pujo, perkebunan adalah raksasa, raksasa yang tidak efisien dan malas, namun tetap saja raksasa. Ia makan banyak ruang. Ia serakah dan ceroboh, bikin rusak dan hancur segala di sekitarnya. 

Sementara bagi Tania, perkebunan adalah konstruk kolonial, yang dibangun berdasar asumsi petani kecil tidak mampu berproduksi dengan efisien. Sehingga mereka menciptakan mesin yang menggalang tanah, tenaga kerja, dan modal dalam jumlah besar untuk budidaya tunggal yang dijual ke pasar dunia. 


Tania Murray Li & Pujo Semedi mengerjakan penelitian dan menyusun buku Hidup Bersama Raksasa karena melihat adanya situasi genting yang di alami warga di tiga negara, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Warga di tiga negara tersebut disebut adalah yang paling terdampak dalam upaya pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan sawit. Kebakaran hutan yang biasanya terhubung dengan pembukaan lahan perkebunan akan memproduksi kabut asap dan udara kotor pekat selama beberapa waktu. 


Namun, buku ini bukan hanya tentang sawit. Buku ini erisi tentang bagaimana kekuasaan bekerja secara senyap namun brutal, dan bagaimana negara, korporasi, dan logika kapitalisme agraria membuat perampasan tanah terlihat normal, legal, dan dibutuhkan. Sawit di buku ini tidak hanya sekadar tanaman atau pohon seperti yang disebut oleh presiden kesayangan kita. Sawit adalah rezim yang mengatur siapa boleh hidup layak, siapa yang terpinggirkan, dan siapa yang dipaksa menerima dan bersyukur hanya karena masih diberikan pekerjaan di tanahnya sendiri yang sudah bukan miliknya lagi. 


Tania Murray Li dan Pujo Semedi secara terang-terangan menunjukkan satu hal penting : pendudukan perkebunan sawit itu hampir tidak pernah terjadi melalui represi dengan senjata, tapi lewat kertas, peta, izin, dan bahasa pembangunan dan alasan kestabilan atau kemandirian ekonomi. Kekerasannya administratif, tapi dampaknya bisa langsung terasa, tanah hilang, pilihan hidup lenyap, dan masyarakat dikurung dalam satu sistem produksi.


Buku ini merekam dua perkebunan sawit di Kalimantan barat. Tania dan Pujo mengkaji struktur dan tata kelola dua perkebunan sawit tersebut. Hidup Bersama Raksasa ini membongkar ilusi tentang pilihan bebas yang dikatakan diambil oleh masyarakat sekitar. Masyarakat lokal sering kali disebut "setuju" atau bermitra. Namun, yang perlu dikaji lagi adalah mereka setuju dalam kondisi seperti apa? Saat tanah sudah dipagari hukum negara, saat hutan sudah dilabeli sebagai "tanah negara", dan saat opsi hidup di luar sawit pelan-pelan dimatikan. Orang-orang sekitar perkebunan dipasung masa depannya dan  dipaksa bergantung pada upah, kredit, dan pasar yang tidak mereka kuasai. Dan ini, bukan pembangunan yang diamanatkan UUD 1945 atau Pancasila, karena tidak ada keadilan yang rakyat sekitar dapatkan.  


Lantas bagaimana posisi negara yang nampak pura-pura netral? Negara hadir lewat izin, regulasi, dan aparat tapi keberpihakannya jelas yaitu melicinkan jalan ekspansi bukan melindungi warga. Konflik agraria kemudian direduksi jadi "kesalahpahaman", bukan hasil desain kebijakan pemerintah. 


Satu fakta yang menyakitkan diungkap dalam Hidup Bersama Raksasa, bagaimana raksasa ini memecah masyarakat dari dalam. Sawit menciptakan kelas baru dalam masyarakat, mandor, plasma, buruh harian. Keguyuban dan solidaritas yang ada di desa rontok digantikan oleh hierarki dan kecemburuan. Hal ini merupakan bagian dari strategi klasik, pecah, kelola, dan kuasai. 


Sepanjang membaca buku ini, saya dibuat marah tapi amarah ini entah harus ditinjukan ke arah mana. Jika kamu suka membaca tentang isu lingkungan, masalah agraria, atau dunia perkebunan sawit, buku ini layak untuk dibaca dan dipelajari. 


Saya belajar satu hal dari buku ini, jangan lelah mencintai negara ini, meskipun dikelola secara brutal dan serakah oleh orang-orang yang tak tahu diri. 


Selamat membaca




Bukan Buku yang Mereka Takuti, tapi Pemikiran


Penghancuran Buku dari Masa ke Masa  || Penulis : Fernando Baez || Penerjemah : Lita Soerjadinata || @marjinkiri ||Cetakan Keempat, Agustus 2025 || 410 halaman

Rate : 5/5 ⭐

"Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahir peradaban, tulisan dan hukum, musnah terbakar. Sisanya tinggal abu"

Penghancuran Buku dari Masa ke Masa - Fernando Baez 

Itu adalah kalimat pembuka dari buku yang melihat cover dan membaca judulnya saja jantung saya sudah berdebar kencang. Bahkan sebelum membaca isinya. Saya pernah sekilas membaca buku-buku yang diboikot, dibakar, dilarang beredar, disita, dan banyak hal buruk lainnya, tapi kali ini saya memutuskan membaca buku catatan sejarah dunia yang menunjukkan bahwa hal mengerikan itu tidak hanya terjadi di negeri ini. 

 Fernando Baez menulis dan menyusun buku ini berdasarkan sebuah pertanyaan yang ia temukan saat berada di Irak pada tahun 2003. Masa di mana Amerika Serikat menggempur Bagdad. Ia menyaksikan penghancuran dan pengabaian museum dan perpustakaan yang mengakibatkan banyak koleksi dan buku yang dihancurkan. Di saat itulah muncul pertanyaan "Mengapa manusia menghancurkan buku?" yang terus menghantuinya. 

Sebuah kutipan menarik di pendahuluan buku ini disebutkan oleh Baez berdasarkan semua teori yang ia temukan terkait penghancuran buku selama perjalanan sejarah umat manusia. 

"...buku dihancurkan bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai tautan ingatan, artinya sebagai salah satu poros identitas seorang manusia atau suatu masyarakat."

"Tak ada identitas tanpa ingatan. Jika kita tidak ingat siapa kita, kita tidak akan mengenal siapa diri kita."

Baginya, pelaku penghancuran buku merasa tidak cukup untuk membunuh atau memenjarakan si penulis, tapi sampai menghancurkan ideologi dan ingatan terhadap diri, karya, dan ide penulisnya.

Mengerikan bukan? Dan peristiwa penghancuran buku itu sudah ada bahkan sebelum abad ke 19 hingga saat ini. Bahkan di negeri kita sendiri, dekat dengan kita, di akhir-akhir ini di akhir tahun 2025. Menyedihkan. 

Dalam buku ini, para penguasa atau rezim yang berkuasa acap kali memilih jalan menghancurkan buku sebagai simbol pemberangusan atas ideologi yang dianggap membahayakan dan mengancam kekuasannya. Bahkan di awal tahun 1500an di Granada Spanyol, seorang imam  bernama Francisco Jimenez de Cisneros memerintahkan untuk menghabisi budaya lain dan penghancuran dan pembakaran Al Quran. 

Sepertinya premis setiap rezim yang ingin berkuasa mutlak selalu memusuhi buku benar adanya. Pemusnahan Al Quran hanyalah salah satunya.

Ada juga :

- Pembakaran Perpustakaan Alexandria

- Penghancuran teks-teks Maya oleh penjajah Spanyol

- Nazi yang membakar buku di alun-alun

- Rezim otoriter modern yang menyensor arsip


Semuanya selalu memiliki pola yang sama :

1. Ada ide dominan yang ingin berkuasa

2. Muncul pengetahuan alternatif

3. Pengetahuan itu dianggap berbahaya

4. Buku dihancurkan




Hal menarik dari Báez adalah caranya menunjukkan bahwa sejarah yang kita kenal hari ini adalah sejarah yang selamat, bukan sejarah yang lengkap. Artinya ada banyak pemikiran kuno hilang total, banyak ilmu alternatif musnah, dan banyak suara minoritas sengaja dibungkam. Yang kemudian tersisa hanyalah versi yang didukung penguasa, cocok dengan ideologi dominan, dan tidak mengganggu struktur kekuasaan. 

Seperti relate dengan kondisi kekinian di negeri ini kan? Jadi, apakah seharusnya kita tidak perlu lagi gagap dan terkaget-kaget jika tiba-tiba ada berita buku dijadikan barang bukti tindakan yang dianggap makar atau berbahaya, kita juga tidak perlu kaget lagi jika pemerintah mencoba menyusun lagi sejarah bangsa dengan menghapus banyak bagian yang dianggap mengganggu, atau kita juga tidak perlu resah lagi jika ada bincang buku yang dihentikan dan dilarang karena dianggap upaya penyebaran ideologi yang berbahaya bagi penguasa. 

Tidak perlu lagi... 

Karena akan selalu terjadi seperti ini, dari masa ke masa. Buku akan selalu dijadikan momok bagi penguasa dianggap sebagai pengejawantahan ideologi yang dianggap berbahaya dan berseberangan dengan kepentingan penguasa. 

Apakah demikian? Menyedihkan. 

Buku ini layak dibaca untuk membuka perspektif baru tentang ideologi, buku, dan hegemoni penguasa. Ulasan Baez dari masa ke masa disajikan dengan cukup menarik dan naratif yang memudahkan kita membacanya. Meskipun saat membacanya yang ada rasa mengerikan dan mual memikirkan fakta bahwa begitu takutnya para penguasa dan rezim it pada pikiran dan ideologi dari orang atau organisasi yang berlawanan dengannya. 

Selamat membaca dan siapkan diri.



Friday, January 16, 2026

Kendali Hidup dan Obsesi pada Perempuan Rok Ungu

 


Perempuan Rok Ungu || Penulis : Imamuro Natsuko | Penerjemah : Asri Pratiwi Wulandari || @penerbitharu ||Cetakan Pertama, November 2023 || 120 halaman 


Rate : 4/5 ⭐


Pernah gak kamu membaca buku yang nampak sederhana, tenang, tanpa ledakan emosi, ceritanya berjalan lambat, tapi justru membuat pembacanya draining dan tidak nyaman? Kalau belum kalian harus baca novel Perempuan Rok Ungu. Rasa tidak nyaman itu bukan karena ceritanya tidak bagus atau membosankan, tapi lebih karena teknik yang digunakan penulisnya yang mampu meredam semua emosi pembaca sepanjang cerita. 


Novel ini berpusat pada dua perempuan, yang satu mendapat julukan "Perempuan Rok Ungu" dan yang lain adalah narator, awalnya saya pikir ia adalah lelaki karena diam-diam terobsesi mengamati kehidupan Perempuan Rok Ungu. Ternyata sang narator adalah perempuan juga.


Yang menarik dan mencurigakan, sang narator itu tidak pernah benar-benar mendekat kepada Perempuan Rok Ungu, tapi ia mengamatinya kebiasaan, rutinitas, dan hal detail lainnya seperti kapan Perempuan Rok Ungu menganggur dalam setahun atau bekerja di mana di bulan berapa juga jadwal interview. Bahkan di banyak peristiwa narator terbaca seakan "mengatur" dan "mengarahkan" hidup Perempuan Rok Ungu. 


Hal lain yang membuat novel ini masih menarik untuk dibaca, novel ini hampir tanpa konflik besar atau drama meledak-ledak. Justru ketegangannya muncul dari hal-hal kecil: tatapan, kebetulan yang terlalu pas, dan pikiran narator yang terdengar tenang tapi menyimpan sesuatu yang gelap. Kita diajak masuk ke kepala seseorang yang merasa hidupnya biasa saja, lalu menemukan makna lewat mengendalikan hidup orang lain.

Penulis menyajikan novel ini dengan gaya yang dingin, datar, dan hemat emosi. Tapi justru di situ kekuatannya. Perasaan kesepian, keterasingan, dan keinginan untuk diakui terasa sangat nyata. Apalagi dalam konteks kehidupan urban yang sepi meski ramai.


Perempuan Rok Ungu bukan novel yang bikin terharu atau tertawa, tapi novel yang bikin kita berhenti sebentar dan bertanya:

Sejauh mana perhatian berubah jadi obsesi? dan seberapa sering kita sebenarnya ingin “mengatur” hidup orang lain?


Jangan terkecoh dengan jumlah halaman yang tipis, tapi membaca novel Perempuan Rok Ungu ini kamu akan terbawa ke dunia yang penuh ketenangan tapi mencekam.


Selamat membaca




24 Jam Terakhir untuk Melanjutkan Hidup

 


23:59, Kau yang Tak Pernah Pulang dan Aku yang Selalu Menunggu || Brian Khrisna  || Grasindo ||Cetakan Kedelapan, November 2025 || 222 halaman.


Rate : 5/5 ⭐


Orang yang paling kamu cintai adalah orang yang paling mampu melukaimu juga. Dan sialnya, satu-satunya obat yang mampu menyembuhkan segala luka yang ditimbulkan oleh rasa sakit itu, hanyalah orang itu sendiri.

(23:59 - pg 39)

Apa jadinya jika orang yang begitu kita cintai tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan kita tanpa alasan? Tanpa closure apapun, menghilang begitu saja. 


Membaca 23:59 di beberapa bagian seperti melihat cerita sendiri beberapa tahun lalu. Bagaimana Ami begitu hancur saat ditinggalkan Raga tanpa alasan yang jelas seperti bercermin. Rasa sakit yang Ami rasakan, entah bagaimana masih bisa dirasakan entah dari sudut hati sebelah mana. 


Novel ini menyajikan cerita yang cukup menarik tentang usaha untuk melanjutkan hidup dan bangkit dari keterpurukan karena cinta yang belum selesai. Cukup rumit. 


Raga yang meninggalkan Ami dan membuat Ami yang tadinya merupakan sosok yang "hidup" dan ceria berubah menjadi perempuan muda yang berkubang tangis, suram, depresi, dan tak punya semangat hidup lagi. Hingga kemudian hadir Aransyah, ia ada menemani Ami di saat-saat terkelam Ami dengan kesabarannya. Aransyah lah yang berhasil membantu Ami bangkit dan membuatnya percaya untuk melangkah kembali.


Kata orang, masa-masa menjelang pernikahan akan muncul banyak ujian. Termasuk bagi Ami. Unfinished business dengan hubungannya bersama Raga membuatnya ragu apakah keputusannya menikah dengan Aransyah adalah keputusan tepat.


Konflik dihadirkan bahkan sejak awal dan terekskalasi hingga Ami dan Raga menemukan closure untuk hubungan mereka. 


Novel 23:59 ini akhirnya saya baca secara subyektif karena banyak hal personal yang tak sengaja beririsan. Tapi secara obyektif novel ini sangat ringan dibaca, penceritaannya mengalir, juga konfliknya yang disajikan dengan pas dengan berpusat pada Ami.


Apakah akhirnya Raga dan Ami kembali bersatu? Atau Ami akan melanjutkan pernikahannya dengan Aransyah? Kamu bisa menemukan jawabannya sendiri dengan membaca novel 23:59.




Thursday, January 8, 2026

Belajar dari Kisah Orang-orang Biasa


Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya || @reda.gaudiamo   || @shiramedia ||Cetakan Kelima, Oktober 2025 || 126 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

"Kalau yang lain panas jangan ikut panas. Kalau yang lain terbakar, bikin dingin pikiran, hati. Sembahyang. Sembahyang. Api nyamber barang yang panas, kabur dari yang dingin."
- Koh Lauw - 

🐱🐱🐱

Membaca Kios Pasar Sore saat reading slump itu benar-benar jalan ninja terbaik yang saya ambil. 31 kisah yang dituliskan ibu Reda dalam buku ini sangat heart warming. Tak hanya ringan dibaca tapi menghangatkan hati. 

Kisahnya beragam dari banyak point of view banyak keluarga dan orang-orang biasa. Kisah tentang supir, biduan, penerbang gagal, tukang semir sepatu, petugas Oranye, penjual peniti, pengemis, office boy, pekerja, penjual kopi, bahkan tentang kucing dan masih banyak lagi. Di setiap chapter kisahnya tidak pernah gagal membuat saya merasa nyes di hati dan mata. 

Seperti kisah Koh Lauw, penjual kopi di sebuah pasar. Kedai kopi yang berada di ruang memori perjalanan hidup salah satu pelanggannya. Yang menjadi menarik dari kisah ini adalah pasar tempat Koh Lauw berada sudah empat kali mengalami kebakaran. Namun ajaibnya, kios Koh Lauw selalu selamat dari kebakaran. 

Membaca 31 kisah dari orang-orang biasa di luar radar keseharian saya tuh seperti menyegarkan sekaligus menyadarkan. Membuat saya memahami kalau setiap orang di dunia ini, di luar sana, memiliki struggling hidupnya masing-masing. Berkali-kali menemukan "Oh Moment" dan "Kok gitu moment" ketika membaca kisah-kisah orang lain dalam buku ini. 

Buku ini sangat ringan tapi sarat pesan dan value. Nyaman banget dibaca dalam sekali duduk sebenarnya. Tapi karena saya berada dalam fase reading slump, saya perlu waktu 3-4 hari untuk menyelesaikannya. Ini bukan karena buku ini tidak menarik, tapi karena saya saja yang masih struggling mengembalikan kebiasaan membaca. 

Jadi, kalau kamu suka cerita-cerita slice of life yang penuh kehangatan. Wajib sekali coba baca Kisah Pasar Sore dan Cerita Orang-orang Biasa Lainnya