Sunday, March 3, 2024

,

Pasien ; Cerita yang Membuat Jantung Tidak Aman dan Overthinking



Pasien || Naomi Midori || @penerbitharu || Januari, 2024 || 120 halaman

Rate : 5/5 ⭐

Seseorang hanya menjadi protagonis dalam kehidupannya sendiri, tanpa tahu dia memainkan peran antagonis dalam kehidupan orang lain.

-hlm 22-


Jika ada novel thriller Indonesia yang mencekam bahkan sejak prolog, salah satu jawabannya adalah novel Pasien ini. Set up cerita dibangun mencekam sejak awal dengan kutipan berita pembunuhan satu keluarga di suatu desa. Pembunuhan yang menggegerkan keenam anggota keluarga itu ditemukan sudah membusuk. 

Tragedi pembunuhan yang disinyalir didasari perebutan warisan dan perbuatan asusila anggota keluarganya. Hingga kemudian tersebar video asusila pasangan yang ditengarai kakak dan adik. Dan kemudian kasus itu pun tenggelam bersama misteri di baliknya

Set up cerita berlanjut dengan tokoh bernama Danisa Ramdhani dan Imelda Shafira. Danisa yang diceritakan sebagai seorang psikolog dan Imelda yang dinarasikan sebagai akuntan. Mereka berdua tak sengaja bertemu di rumah sakit. Relasi yang kemudian berlanjut sebagai psikolog dan pasien. 


Namun, berbeda dengan pasien yang biasa berkonsultasi dengan Danisa biasanya. Pada Imelda, Danisa tidak bisa membaca apapun. Ekspresi yang ia rasakan kosong. Bukan layaknya yang ia rasakan saat ada orang konsultasi padanya. Selain itu, sejak awal Imelda menekankan bahwa ia memilih Danisa bukan untuk konsultasi. Dia hanya ingin mencari teman diskusi. Aneh kan. 

Sesi demi sesi Danisa merasakan pasiennya kali ini memang berbeda. Sampai Imelda menceritakan sebuah kisah dan pengakuan. Kisah yang menjebak Danisa pada kode etik profesi. Dan di momen itu lah, Danisa merasa menyesal menerima Imelda sebagai pasiennya.

Novel ini gila sih. Gaya penceritaanya mengalir sekali. Set up ceritanya sampai ke ending plot twist sangat luar biasa. Plot twist yang buat saya lempar buku ini ke meja sambil teriak "Loh kok bisa. Loh gimana sih!" Kalau kamu menyangka ini cuma sekedar novel thriller biasa, berarti kamu salah.

Penulisnya berhasil mengacak acak emosi, membuat kita ikut berpikir cerita ini bakal berakhir seperti apa. Dan membuat ending cerita yang sangat "membagongkan". Pembaca diajak masuk dan bertualang ke POV dua tokoh utama dalam novel ini di masing-masing bab ceritanya. Novel ini bukan jenis novel thriller yang mencekam penuh jump scare. Penulis lebih banyak memainkan watak tokoh untuk membangun cerita. Meskipun demikian, rasa merindingnya dan tegangnya puj masih terasa.

Penulis bisa membuat karakter remaja pembunuh yang cerdas dan jago mengobservasi calon korbannya. Mengembangkan karakter pembunuh melalui set up cerita dengan background kisah keluarganya. Membuat pembaca yang harusnya tidak menyukai karakter pembunuh ini jadi seperti maklum atas apa yang dia lakukan. Paling ga, itu yang Nunna rasakan. Nunna jadi berpikir "Oh ya pantes lah dia bertekad sekali membunuh, karena semua kesakitan yang ia alami." Lagi-lagi pujian tentu tertuju pada penulisnya.

Suka banget pada kutipan yang saya sematkan di awal. Kadang kita itu tidak sadar tengah menjadi tokoh antagonis pada cerita hidup orang lain. Karena terbiasa merasa ia menjadi pusat dunia. 

Novel yang jelas bisa dibaca dalam satu kali duduk. Karena memang pasti ga mungkin bisa berhenti baca sampai tuntas endingnya. Sssttt... di akhir ada kejutan menarik. Baca yah. Oh ya, kalo beruntung kamu akan mendapaykan freebies unik setiap pembelian buku, ada lem tikus, dll.

Selamat Membaca.

0 comments:

Post a Comment