Friday, March 29, 2024

Abid dan Kantung Keajaiban

Ramadhan akan usai sebentar lagi, umat muslim yang selama hampir sebulan berlomba melipatgandakan ibadah tentu akan kehilangan. Termasuk Abid, siswa kelas 4 SD yang selama Ramadhan tahun ini menjadi sosok yang berbeda. 


Abid yang dulu dikenal sebagai anak laki-laki yang bengal. Tapi bukan tipe yang nakal keterlaluan, ia hanya suka iseng. Hanya saja, terkadang keisengannya memantik emosi orang di sekelilingnya, ayah bunda, guru, dan teman-temannya. 


Namun, suatu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan, selepas mengikuti sholat jumat di sekolahnya, Abid nampak termenung tak seperti biasanya yang selalu ceria dan aktif. Ustad Salim melihat Abid yang duduk lesu di selasar masjid sekolah, kemudian mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Abid sakit? Tumben gak main sama teman-temannya?" Tanya Ustad Salim.

"Ustad, apa betul kalo kita bengal, suka jailin orang, gak nurut kata orang tua, nanti di alam kubur dan di neraka akan disiksa?" tanyanya.

Ustad Salim tersenyum mendengar perkataan itu.

"Gini nak, Allah SWT menciptakan manusia itu dengan dua misi utama yang pertama adalah untuk beribadah kepadaNya dan yang kedua adalah menjadi khalifah di muka bumi. Dengan dua misi itu manusia akan berlomba lomba untuk memperbanyak bekal agar bisa masuk ke surga. Bekalnya apa? Ibadah yang rajin dan memperbanyak amalan baik. Sebagai anak, amalan baik bisa dalam bentuk mematuhi orang tua, rajin belajar, membantu orang-orang di sekitar dan masih banyak lagi. Nah, sekarang Ustad tanya, bekal Abid sudah banyak belom?" Ustad Salim mengakhiri tuturannya.

Abid nampak merenung, "Belum ustad, Abid masih sering bikin bunda marah. Masih sering bengal ga dengerin omongan guru di sekolah," jawabnya sambil menunduk.

Ustad Salim mengelus rambut Abid dan berkata "Nah gimana kalau selama Ramadhan nanti Abid banyak-banyakin bekal dengan ibasah dan amalan baik," ustad kemudian menyampaikan ide kepada Abid.


Sejak saat itu, Abid memiliki kantung kebaikan yang berisi kertas lipat yang dibentuk bintang. Ustad Salim mengajarkan Abid melipat kertas hingga berbentuk bintang. Setiap kebaikan atau ibadah yang ia kerjakan, ia akan memasikkan bintang pada kantungnya. Tidak seperti anak lain yang menukar kebaikan dengan reward, ia tidak meminta apapun pada siapapun. Abid hanya mau menjalankan misinya.  Ia mulai sering rajin ibadah, membantu bunda, belajar tanpa disuruh, anteng di sekolah, dan banyak hal baik yang ia lakukan. Tentu saja perubahan Abid ini membuat semua orang yang mengenalnya kagum. Termasuk ustad Salim, ia berharap semangat Abid tidak berakhir hanya saat Ramadhan saja.



#RWCODOPDay16

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWritingChallenge2024

0 comments:

Post a Comment