Friday, March 29, 2024

Riyoyo Kupatan


Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Pepatah itu rupanya baru benar-benar dipahami maknanya oleh Putri. Saat ia merantau ke Jakarta setelah sepanjang hidupnya tinggal di Surabaya, Putri menemukan culture shock. Terutama di saat suasana Ramadhan dan Lebaran. Tiap daerah memang memiliki kearifan lokal masing-masing yang pastinya unik. 

Di kala Ramadhan, di beberapa titik masih ditemukan tradisi bedug patrol saat sahur. Tapi, banyak daerah Jakarta lain yang sudah tidak ada bedug patrol. Masih ada remaja masjid atau pemuda kampung yang keliling membangunkan sahur tapi tanpa bedug atau tabuhan. Kalau di Surabaya, masih ada yang keliling kampung untuk membangunkan sahur, tapi lebih sering ditemukan panggilan dan pengingat sahur dilakukan dari masjid dengan pengeras suara.

Lalu yang berbeda juga, kalau di Jakarta ketupat disajikan tepat di saat Lebaran. Hampir di setiap rumah akan menyiapkan ketupat lengkap dengan opor ayam. Kalau di Surabaya dan beberapan daerah di Jawa Timur, ketupat biasanya muncul sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tepatnya setelah puasa syawal setelah Idul Fitri. Tradisinya yang juga selalu ibu Putri lakukan adalah membuat ketupat, sayur labu siam, dan lepet. Masakan itu akan dibagikan ke tetangga rumah dari ujung ke ujung. Begitupun sebaliknya, kalo di Surabaya disebut riyoyo kupatan atau Lebaran Ketupat. 

Seperti siang itu, Putri begitu rindu ketupat dan sayur labu siam buatan ibunya. Ia ingat sekali saat di Surabaya, ibunya selalu memintanya ater ater ke tetangga. Bertahun-tahun sejak ibunya meninggal, Putri tak lagi membuat ketupat atau bahkan membelinya. Tapi kalo itu, ia rindu sekali ketupat sayur buatan ibunya. Ia bertekat, lebaran kali ini ia akan kembali melanjutkan tradisi kearifan lokal yang dikenalkan ibunya padanya. Berbagi syukur dan kebahagiaan dengan membagikan Ketupat, sayur labu siam, dan lepet.


#RWCODOPDay18

#RWCODOP2024

#OneDayOnePost

#RamadanWrittingChallenge2024

0 comments:

Post a Comment