Tuesday, March 17, 2026

Noni Londo yang Menjalani Takdirnya Sebagai Gowok di Nyi Sadikem


Nyi Sadikem  || Artie Ahmad || @marjinkiri ||  Cetakan Pertama, Juni 2025 || 221 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Orang-orang datang menghancurkan tempat pelacuran, beberapa perempuan mereka tawan dengan tuduhan mengganggu ketenangan. Para lelaki sering bergumul bersama mereka, menghabiskan uang dan waktu. Para pelacur itu yang disalahkan, mereka tidak menyalahkan kaum lelaki yang datang atas kemauan sendiri.

[ Nyi Sadikem - Artie Ahmad ]


Jujuuur saya membaca novel Nyi Sadikem ini karena FOMO. Banyak bookstagram atau booktok yang menyarankan membaca novel satu ini. Dan ini salah satu keFOMOan yang tidak akan saya sesali. Sebuah premis cerita seorang perempuan blasteran yang menjadi gowok itu cukup menarik bagi saya. Selama ini gowok yang diidentikkan sebagai profesi sumir yang dilakoni perempuan pribumi kemudian dalam kisah Nyi Sadikem ini tokohnya adalah seorang blasteran pribumi dan londo. Perempuan itu bernama Elizabeth van Kirk, anak dari gundik dan lelaki Belanda Isaak van Kirk. 

Kebahagiaan Elizabeth yang kecilnya dipanggil Pop oleh papanya tak berlangsung lama. Terlebih saat ia tahu papanya hanya menganggap mamanya sebagai budak pemuas nafsu dan statusnya tak lebih dari seorang gundik. Hingga istri sah papanya datang, hidup Elizabeth dan mamanya semakin menderita. Mamanya yang gundik itu kemudian ditemukan menggantung di pohon dekat rumahnya dan tak lama setelahnya Elizabeth dibuang di sebuah sungai setelah sebelumnya dihajar setengah mati. 

Takdir hidup yang akhirnya membawa Elizabeth yang blasteran noni Belanda itu bertransformasi menjadi Moerni dan kemudia Nyi Sadikem. Ia menjadi salah satu primadona gowok yang membuat banyak pemuda yang menjadi cantriknya luluh hatinya. Tidak hanya karena kecantikan dan tubuh Nyi Sadikem, tapi karena ia benar-benar menuntun para pria muda itu mendapatkan kejantanannya dan siap menghadapi gerbang pernikahan.

Oke, banyak yang mengira profesi Gowok itu sebagai profesi yang merendahkan perempuan. Tapi bagi saya entah mengapa profesi Gowok yang dijalani oleh Nyi Sadikem ini justru menunjukkan kekuatan peranan perempuan pada masa itu. Bayangkan, seorang laki-laki muda sampai harus memerlukan bantuan seorang Gowok untuk menemukan kejantanan dan bersiap menjadi suami yang paripurna. 

Seperti Nyi Sadikem, ia tak hanya mengajari para pria itu tentang urusan ranjang tapi lebih dari itu. Bagaimana seorang gowok harus bisa mengurus seorang perempuan dan melakukan peran sebagai suami. Pada masa itu, tanpa seorang gowok, pemuda-pemuda yang baru netes itu akan gelagapan masuk ke kehidupan rumah tangga. Peran perempuan sebagai pendidik dalam urusan rumah tangga juga sangat menonjol dalam tradisi Gowok ini. 

Tapi, tentu saja akan muncul pro kontra. Gowok dikisahkan harus tahu batasan. Ia hanyalah istri bayangan yang tidak boleh menggunakan hatinya saat "mengasuh" pria muda itu. Ia harus siap melepas cantriknya jika masanya tiba. Di titik ini, profesi Gowok hanya dinilai dengan materi, tidak boleh ada perasan yang terlibat. 

Sepintas, saya melihat Gowok itu seperti Geisha di Jepang. Mereka tak hanya sekedar menjual tubuh tapi keindahan. Sama-sama digambarkan sebagai perempuan yang lemah lembut, kalem, dan mengerti cara membuat laki-laki bahagia. Tradisi Gowok ini banyak terjadi di Jawa, khususnya di sekitaran Banyumas, kalau di novel ini latarnya ada di daerah bernama Mbanget Waru berlatar tahun 1930an. Namun tradisi ini hilang di sekitar tahun 60-an. 

Novel Nyi Sadikem ini enak banget dibacanya. Ceritanya disusun menguras emosi dari satu konflik yang muncul di hidup Nyi Sadikem ke konflik lainnya. Pun jika ada adegan sensual yang ditampilkan dalam novel ini, penulisannya tidak terkesan binal. Kita bisa merasakan luka perasaan yang dialami tokohnya. Dari membaca novel ini kita tahu satu hal, bahkan dari profesi yang dianggap tabu dan tak bermoral, pada masanya Gowok punya peranan yang cukup signifikan dalam mendidik seseorang untuk masuk ke dunia pernikahan. 

Selamat mengeksplorasi novel ini.

Wednesday, March 11, 2026

Semangkok Mie Ayam, Variabel lain yang Mengubah Hidup Ale

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati  || Brian Khrisna || Penerbit Grasindo ||  Cetakan ke-65, September 2025 || 209 halaman 

Rate : 5/5 ⭐



Selama ini aku selalu mencari jawaban dari tempat-tempat yang jauh, padahal Tuhan meletakkan jawaban itu begitu dekat denganku. Yang kubutuh hanya melihat lebih luas dan lebih bijaksana.

(Ale - Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | Brian Khrisna)

Jujur, saya terus menunda membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati atau kita sebut saja SMASM. Saya ketakutan bahkan sebelum membaca novelnya. Ketakutan karena asumsi "pembaca" lain tentang buku ini dan juga ketakutan saya akan "dimakan" hidup-hidup oleh cerita novel ini. Dan, pada akhirnya ketakutan saya yang kedua benar terjadi.

Novel SMASM yang ditulis Brian Khrisna ini benar-benar menghabisi saya melalui tokoh Ale. Semua kecemasan Ale, rasa ingin mengakhiri hidup karena merasa tidak punya "masa depan", rasa kesepian, dan rasa bersalah  yang dirasakan Ale pernah dan mungkin masih saya rasakan. But no, saya ga akan membawa ulasan buku ini menjadi sesuatu hal yang personal.

Penggambaran tokoh Ale yang jauh dari kesan good looking dan terlihat unwanted seperti jadi bahan bakar cerita yang pas. Terlebih keputusasaan Ale akhirnya membawanya pada keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Sebuah titik terendah keputusasaan seseorang dalam hidup adalah ketika ia sudah tidak lagi punya keinginan untuk tetap hidup. Namun, di saat Ale sudah menentukan hari kematiannya, tiba-tiba ia ingin makan mie ayam langganannya. Semangkok mie ayam itu lah yang membawa Ale ke petualangan baru. 

Ale dibawa oleh Tuhan di kehidupan yang selama ini jauh dari hidup kesehariannya. Ale yang terbiasa bekerja di kantor ber-AC di gedung tinggi, lantas dipertemukan dengan kisah hidup orang-orang yang kemudian mengubah hidupnya. Berteman dengan bandar narkoba seperti Murad, masuk ke kehidupan malam, berkenalan dengan mucikari seperti Mami Louisse , PSK seperti Juleha, orang-orang yang terjerat hutang rentenir seperti Pak Uju, orang dengan tuna netra seperti Pak Jipren, bahkan sempat menjadi orang kepercayaan Murad. 

Salah satu punchline yang paling ngena buat saya adalah "Maybe, it's just a bad day, not a bad life afterall". Kalimat ini seperti sebagai tanda bagi kita pembaca novel SMASM ini, kalau hal-hal yang mungkin menurut kita buruk terjadi di hidup kita itu tidak akan selamanya terjadi. Seperti Ale yang akhirnya diarahkan masuk ke "dunia lain" sampai akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan dan kerisauannya selama ini. Hanya dengan menambahkan variabel lain di antara rencananya, makan mie ayam. 

Cerita di novel ini disajikan dengan bahasa yang menurut saya cukup mudah dibaca dan dipahami. Dialog-dialog antara Ale dan para tokoh lain juga hadir dengan cair namun sekaligus menunjukkan karakter masing-masing tokoh itu. Beberapa bagian cerita di novel ini membuat saya menjeda sejenak dan menarik napas panjang. Percakapan antar tokoh yang cair tadi berhasil mengetuk masuk ke pikiran dan hati saya. 

Ringannya gaya penceritaan tidak sebanding dengan beratnya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Cerita dalam novel ini seperti jujur menyajikan realita yang menghangatkan hati saat dibaca. Tidak memicu pembaca untuk berbuat hal buruk, malah sebaliknya, novel ini mengajak pembaca kembali menyadari dan menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang membelit di kepala. 

Kalian yang suka bacaan yang ringan tapi sarat tamparan dengan cara yang sederhana, harus mencoba membaca novel ini. Jangan takut-takut seperti saya. Kemudian temukan ketenangan dan jawaban pertanyaanmu sendiri. 


Selamat membaca.