Tuesday, November 24, 2015

,

Just Give and Give, That's It


Pada sebuah workshop, seorang motivator telah menyiapkan kartu kartu bertuliskan nama semua peserta workshop. Lantas ia meminta semua peserta workshop mencari kartu yang bertuliskan nama mereka masing-masing. Apa yang terjadi? 5 menit berlalu tak satupun yang mendapatkan kartu bernama mereka, yang ada suasana ricuh. Sang motivator pun menghentikan menyuruh mereka berhenti. Ia kemudian mengubah instruksi, "Silahkan mengambil kartu manapun yang pertama kali Anda temukan, dan berikan kepada orang yang namanya tertera di kartu". Lantas tebak apa yang terjadi? Tidak sampai 5 menit semua peserta workshop mendapatkan kartu sesuai dengan nama masing masing.

Gambar diambil dari sini
Ilustrasi di atas ingin menyampaikan pesan apa sih ke kita?

Pernah kan kita mendengar istilah take and give. Keadaan saat kita mengambil atau memberikan sesuatu dengan mengharapkan sebaliknya. Namun, prakteknya banyak dari kita yang hanya terfokus mengambil hak kita tanpa ingat untuk memberi. Tekanan kerja atau kerasnya lingkungan kadang membentuk kita menjadi sosok yang individualis, hanya terfokus pada kepentingannya sendiri. Hal ini bisa tergambar dari ilustrasi di atas. Ketika kita terfokus dengan kepentingan kita sendiri tanpa peduli pada orang lain, yang terjadi adalah chaos atau disharmoni.

Lantas mungkin sedikit dari kita akan berkata, “Ah... Apa untungnya saya repot urus kepentingan orang lain? Belum tentu ada orang lain yang berpikiran sama dengan kita.”

Saya hanya ingin mengajak kita semua berpikir dengan analogi sederhana seperti ilustrasi di atas. Fokus saja untuk memberikan yang terbaik dari diri kita bagi orang lain. Bayangkan… Jika kita semua terfokus hanya untuk memberi yang terbaik dari diri kita untuk orang lain. Tak sekadar materi, bisa apapun yang kita miliki. Bahkan senyuman sekalipun. Tak juga harus menjadi orang kaya atau mampu dulu untuk bisa memberi. Bayangkan saja dulu semua itu…

Kita tak lagi sibuk mengeluh dan meminta atau menuntut apa yang tidak kita miliki. Tapi kita sibuk memberikan apa yang kita miliki dan dibutuhkan orang lain. Sudah lakukan saja, tidak usah berharap orang lain akan berlaku sama pada kita. Fokus pada memberi dan memberi.

Prinsip Give and Give ini memungkinkan terjadinya harmoni dalam hubungan interpersonal. Ketika prinsip Give and Give ini diterapkan bukan berarti kita tidak berhak menerima pemberian orang lain. We just receive it, not take from the others. Merendahkan hati dan melepaskan keterikatan atas apapun yang kita berikan pada orang lain. Lakukan saja. Yakin Saja.

Keselarasan hidup akan terjalin perlahan. Jika selama ini kita memelihara ego dan keterikatan terhadap apapun milik kita, maka dengan membiasakan diri untuk terus memberi hidup menjadi lebih ringan untuk dijalani. Untuk awalnya, jujur bagi saya untuk membiasakan diri untuk terus give and give harus setengah dipaksa. Karena saya pribadi awalnya masih sering berpikir, apa untungnya bagi saya? Bagaimana jika tidak ada yang berbuat sama seperti saya? Tapi proses memang harus dijalani. Awalnya terpaksa kemudian menjadi terbiasa.

Tidak perlu menunggu dari orang lain untuk memulai hal yang baik bukan? Just Give and Give.   







          


0 comments:

Post a Comment