Friday, January 23, 2026

Memoar Aurelie, Suara bagi Korban Child Grooming dan Pelecehan Lain


Broken Strings || Aurelie Moeremans || 220 halaman || Self Publish 

Rate : 5/5 ⭐

Kepalaku berdenyut, dadaku menegang, seperti tubuhku tahu sesuatu yang pikiranku belum mengerti. Aku bilang pada diri sendiri, ini cuma karena hari yang panjang, lampu, kebisingan, tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang membuatku gelisah. 

Auerelie - Broken Strings


Disclaimer : Tentu ini bukan review atau ulasan buku yang proper, anggap saja ini reaksi saya setelah membaca Broken Strings. 


Sejak pertama kali buku yang ditulis Aurelie ini diluncurkan melalui Instagram dan ia membuatnya bebas didownload dan dibaca oleh siapapun, jujur saja saya menahan diri untuk ikut membaca. Terlebih ketika kemudian viral dan banyak teaser dari mereka yang sudah membacanya di sosial media, membuat saya makin ragu untuk membaca buku ini. Bukan karena apa-apa, tapi karena takut. Aku takut apa yang saya anggap sudah baik-baik saja, kemudian terpicu untuk muncul ke permukaan. 

Namun, rasanya saya menjadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri untuk membaca. Hingga bab kedua masih aman, Aurelie menuliskan kehidupannya dengan tenang dan perlahan. Pembaca dituntun untuk masuk ke dunianya dengan cara yang tenang tapi tetap ada rasa tak nyaman. Dan masuk bab ketiga, saat ia mulai menceritakan tentang Bobby, saya benar-benar merasa mual, marah, jijik, dan mengeluarkan banyak sumpah serapah selama membaca. 

Meskipun nama-nama disamarkan dalam memoar yang ditulis Aurelie ini, bagi saya nama-nama asli itu sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah peristiwa dan peran mereka sesuai dari apa yang diceritakan Aurelie. 

Hanya satu kata, mengerikan. Membayangkan seorang remaja berusia 15 tahun dimanipulasi oleh laki-laki yang usianya hampir dua kali usianya. Bagaimana orang-orang di sekitar remaja perempuan bernama Aurelie itu gagal mencegah perbuatan jahat itu dan gagal melindunginya. Bahkan ada satu dua orang yang justru melanggengkan usaha si Bobby melakukan abuse pada Aurelie. Beruntung orang tua Aurelie tidak meninggalkannya dan menyerah padanya hingga titik terakhir. Meskipun, menurut keyakinan saya, jika perlindungan itu hadir sejak awal, hal buruk itu tidak akan berlanjut jauh. 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya perjuangan Aurelie untuk lepas dan keluar dari jeratan manipulasi dan abuse. Karena saya tahu tidak mudah memutuskan rantai manipulasi itu pada diri korban, karena seringkali korban dikunci secara emosional dan psikis dengan ketakutan dan ancaman yang terus dijejalkan ke pikirannya setiap saat. Sehingga menganggap korban adalah pihak yang bersalah dengan semua hal buruk dalam hidupnya. 

Memoar Broken Strings ini disajikan dengan bahasa yang cukup mudah dipahami, bahkan dalam versi bahasa Inggrisnya pun juga. Seperti yang disampaikan Aurelie, ia menuliskan pengalaman hidupnya ini bukan semata untuk membuka "aib" seseorang atau masa lalunya. Ia berusaha untuk sembuh dari traumanya dan menggunakan media menulis sebagai salah satu caranya untuk sembuh. Ia juga berharap kisahnya bisa membantu orang lain. Dan Aurelie berhasil. Kisahnya, traumanya yang diceritakan dalam buku ini menjadi seperti terang dari kelamnya kasus-kasus serupa di negeri ini. 

Keberanian Aurelie kali ini menceritakan pengalamannya mengalami child grooming dan kekerasan psikis saat ia berusia muda, memberikan nyala api pada kasus-kasus serupa yang tertimbun dalam gelap.

Saya, Kita, Mereka, yang selama ini ternyata menjadi korban dan memilih diam dan sembunyi karena banyak alasan, akhirnya menemukan jalan terang dan keberanian untuk ikut bersuara.


0 comments:

Post a Comment