Penghancuran Buku dari Masa ke Masa || Penulis : Fernando Baez || Penerjemah : Lita Soerjadinata || @marjinkiri ||Cetakan Keempat, Agustus 2025 || 410 halaman
Rate : 5/5 ⭐
"Kenangan kita tak ada lagi. Tempat lahir peradaban, tulisan dan hukum, musnah terbakar. Sisanya tinggal abu"
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa - Fernando Baez
Itu adalah kalimat pembuka dari buku yang melihat cover dan membaca judulnya saja jantung saya sudah berdebar kencang. Bahkan sebelum membaca isinya. Saya pernah sekilas membaca buku-buku yang diboikot, dibakar, dilarang beredar, disita, dan banyak hal buruk lainnya, tapi kali ini saya memutuskan membaca buku catatan sejarah dunia yang menunjukkan bahwa hal mengerikan itu tidak hanya terjadi di negeri ini.
Fernando Baez menulis dan menyusun buku ini berdasarkan sebuah pertanyaan yang ia temukan saat berada di Irak pada tahun 2003. Masa di mana Amerika Serikat menggempur Bagdad. Ia menyaksikan penghancuran dan pengabaian museum dan perpustakaan yang mengakibatkan banyak koleksi dan buku yang dihancurkan. Di saat itulah muncul pertanyaan "Mengapa manusia menghancurkan buku?" yang terus menghantuinya.
Sebuah kutipan menarik di pendahuluan buku ini disebutkan oleh Baez berdasarkan semua teori yang ia temukan terkait penghancuran buku selama perjalanan sejarah umat manusia.
"...buku dihancurkan bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai tautan ingatan, artinya sebagai salah satu poros identitas seorang manusia atau suatu masyarakat."
"Tak ada identitas tanpa ingatan. Jika kita tidak ingat siapa kita, kita tidak akan mengenal siapa diri kita."
Baginya, pelaku penghancuran buku merasa tidak cukup untuk membunuh atau memenjarakan si penulis, tapi sampai menghancurkan ideologi dan ingatan terhadap diri, karya, dan ide penulisnya.
Mengerikan bukan? Dan peristiwa penghancuran buku itu sudah ada bahkan sebelum abad ke 19 hingga saat ini. Bahkan di negeri kita sendiri, dekat dengan kita, di akhir-akhir ini di akhir tahun 2025. Menyedihkan.
Dalam buku ini, para penguasa atau rezim yang berkuasa acap kali memilih jalan menghancurkan buku sebagai simbol pemberangusan atas ideologi yang dianggap membahayakan dan mengancam kekuasannya. Bahkan di awal tahun 1500an di Granada Spanyol, seorang imam bernama Francisco Jimenez de Cisneros memerintahkan untuk menghabisi budaya lain dan penghancuran dan pembakaran Al Quran.
Sepertinya premis setiap rezim yang ingin berkuasa mutlak selalu memusuhi buku benar adanya. Pemusnahan Al Quran hanyalah salah satunya.
Ada juga :
- Pembakaran Perpustakaan Alexandria
- Penghancuran teks-teks Maya oleh penjajah Spanyol
- Nazi yang membakar buku di alun-alun
- Rezim otoriter modern yang menyensor arsip
Semuanya selalu memiliki pola yang sama :
1. Ada ide dominan yang ingin berkuasa
2. Muncul pengetahuan alternatif
3. Pengetahuan itu dianggap berbahaya
4. Buku dihancurkan
Hal menarik dari Báez adalah caranya menunjukkan bahwa sejarah yang kita kenal hari ini adalah sejarah yang selamat, bukan sejarah yang lengkap. Artinya ada banyak pemikiran kuno hilang total, banyak ilmu alternatif musnah, dan banyak suara minoritas sengaja dibungkam. Yang kemudian tersisa hanyalah versi yang didukung penguasa, cocok dengan ideologi dominan, dan tidak mengganggu struktur kekuasaan.
Seperti relate dengan kondisi kekinian di negeri ini kan? Jadi, apakah seharusnya kita tidak perlu lagi gagap dan terkaget-kaget jika tiba-tiba ada berita buku dijadikan barang bukti tindakan yang dianggap makar atau berbahaya, kita juga tidak perlu kaget lagi jika pemerintah mencoba menyusun lagi sejarah bangsa dengan menghapus banyak bagian yang dianggap mengganggu, atau kita juga tidak perlu resah lagi jika ada bincang buku yang dihentikan dan dilarang karena dianggap upaya penyebaran ideologi yang berbahaya bagi penguasa.
Tidak perlu lagi...
Karena akan selalu terjadi seperti ini, dari masa ke masa. Buku akan selalu dijadikan momok bagi penguasa dianggap sebagai pengejawantahan ideologi yang dianggap berbahaya dan berseberangan dengan kepentingan penguasa.
Apakah demikian? Menyedihkan.
Buku ini layak dibaca untuk membuka perspektif baru tentang ideologi, buku, dan hegemoni penguasa. Ulasan Baez dari masa ke masa disajikan dengan cukup menarik dan naratif yang memudahkan kita membacanya. Meskipun saat membacanya yang ada rasa mengerikan dan mual memikirkan fakta bahwa begitu takutnya para penguasa dan rezim it pada pikiran dan ideologi dari orang atau organisasi yang berlawanan dengannya.
Selamat membaca dan siapkan diri.









0 comments:
Post a Comment