Bungkam Suara || Penulis : JS Khairen || @grasindo || Cetakan Kedelapan Oktober 2025 || 366 halaman
Rate : 5/5 ⭐
Apa jadinya jika kita, sebagai warga negara, hanya memiliki satu hari untuk bebas berbicara? Di Hari Bebas Bicara itu semua rakyat bebas berbicara secara terang-terangan, tanpa harus khawatir ditangkap.
Kalau itu terjadi di negeri ini pasti satu hari itu akan chaos, sama yang terjadi di cerita novel Bungkam Suara karya JS Khairen ini. JS Khairen mengajak pembaca masuk ke sebuah dunia distopia, Negara Kesatuan Adat Lawaknesia atau disebut juga NAKAL, di sini berbicara, berteriak, bahkan sekadar bersuara bisa berujung hukuman. Dalam dunia ini, diam bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Suara dianggap berbahaya, karena suara berarti ekspresi, protes, dan kemungkinan perlawanan. Hanya ada satu hari mereka bisa bebas bicara.
Cerita yang Sederhana, Tapi Mengganggu
Plot Bungkam Suara sebenarnya tidak rumit. Namun justru di situlah kekuatannya. JS Khairen tidak sibuk membangun dunia dengan istilah teknis berlebihan, melainkan fokus pada ketakutan sehari-hari, rasa cemas saat ingin bicara, dilema antara diam demi selamat atau bersuara demi kebenaran.
Tokoh-tokohnya terasa manusiawi, tak sepenuhnya heroik, sering ragu, dan penuh konflik batin. Pembaca diajak bertanya:
Kalau aku hidup di dunia ini, aku akan berani bersuara… atau memilih aman?
Alegori Kekuasaan dan Pembungkaman
Sulit membaca buku ini tanpa merasa “tersindir”. Bungkam Suara jelas bukan sekadar fiksi. Ia bekerja sebagai alegori tentang kekuasaan yang takut pada kritik. Di sini, pembungkaman tidak selalu lewat senjata, tapi lewat aturan, normalisasi ketakutan, dan pembiasaan diam.
JS Khairen seakan ingin bilang:
pembungkaman paling efektif bukan ketika suara dilarang, tapi ketika orang-orang takut menggunakan suaranya sendiri.
Ini terasa relevan dengan konteks sosial mana pun, termasuk Indonesia, di mana kritik sering dianggap gangguan, bukan bagian dari demokrasi.
Gaya Bahasa: Ringan, Cepat, dan Mengalir
Salah satu ciri khas JS Khairen tetap terasa: bahasa yang lugas, dialog yang hidup, dan ritme cerita yang cepat. Buku ini tidak terasa “berat”, meskipun temanya serius. Justru itu yang bikin efeknya nendang—pesan politik dan sosial diselipkan tanpa menggurui.
Namun, bagi pembaca yang mengharapkan eksplorasi dunia distopia yang sangat detail, buku ini mungkin terasa agak singkat dan padat. Ia lebih seperti tamparan cepat daripada kuliah panjang.
Bungkam Suara adalah novel yang relevan, resah, dan provokatif. Ia mengajak pembaca merenungkan makna kebebasan berekspresi, keberanian bersuara, dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran dianggap ancaman.
Ini bukan buku yang memberi jawaban pasti.
Tapi ia menanam satu pertanyaan yang terus menggema setelah halaman terakhir ditutup:
Kalau suatu hari suara kita dibungkam, apakah kita masih ingat cara bersuara?









0 comments:
Post a Comment