Nyi Sadikem || Artie Ahmad || @marjinkiri || Cetakan Pertama, Juni 2025 || 221 halaman
Rate : 5/5 ⭐
Orang-orang datang menghancurkan tempat pelacuran, beberapa perempuan mereka tawan dengan tuduhan mengganggu ketenangan. Para lelaki sering bergumul bersama mereka, menghabiskan uang dan waktu. Para pelacur itu yang disalahkan, mereka tidak menyalahkan kaum lelaki yang datang atas kemauan sendiri.
[ Nyi Sadikem - Artie Ahmad ]
Jujuuur saya membaca novel Nyi Sadikem ini karena FOMO. Banyak bookstagram atau booktok yang menyarankan membaca novel satu ini. Dan ini salah satu keFOMOan yang tidak akan saya sesali. Sebuah premis cerita seorang perempuan blasteran yang menjadi gowok itu cukup menarik bagi saya. Selama ini gowok yang diidentikkan sebagai profesi sumir yang dilakoni perempuan pribumi kemudian dalam kisah Nyi Sadikem ini tokohnya adalah seorang blasteran pribumi dan londo. Perempuan itu bernama Elizabeth van Kirk, anak dari gundik dan lelaki Belanda Isaak van Kirk.
Kebahagiaan Elizabeth yang kecilnya dipanggil Pop oleh papanya tak berlangsung lama. Terlebih saat ia tahu papanya hanya menganggap mamanya sebagai budak pemuas nafsu dan statusnya tak lebih dari seorang gundik. Hingga istri sah papanya datang, hidup Elizabeth dan mamanya semakin menderita. Mamanya yang gundik itu kemudian ditemukan menggantung di pohon dekat rumahnya dan tak lama setelahnya Elizabeth dibuang di sebuah sungai setelah sebelumnya dihajar setengah mati.
Takdir hidup yang akhirnya membawa Elizabeth yang blasteran noni Belanda itu bertransformasi menjadi Moerni dan kemudia Nyi Sadikem. Ia menjadi salah satu primadona gowok yang membuat banyak pemuda yang menjadi cantriknya luluh hatinya. Tidak hanya karena kecantikan dan tubuh Nyi Sadikem, tapi karena ia benar-benar menuntun para pria muda itu mendapatkan kejantanannya dan siap menghadapi gerbang pernikahan.
Oke, banyak yang mengira profesi Gowok itu sebagai profesi yang merendahkan perempuan. Tapi bagi saya entah mengapa profesi Gowok yang dijalani oleh Nyi Sadikem ini justru menunjukkan kekuatan peranan perempuan pada masa itu. Bayangkan, seorang laki-laki muda sampai harus memerlukan bantuan seorang Gowok untuk menemukan kejantanan dan bersiap menjadi suami yang paripurna.
Seperti Nyi Sadikem, ia tak hanya mengajari para pria itu tentang urusan ranjang tapi lebih dari itu. Bagaimana seorang gowok harus bisa mengurus seorang perempuan dan melakukan peran sebagai suami. Pada masa itu, tanpa seorang gowok, pemuda-pemuda yang baru netes itu akan gelagapan masuk ke kehidupan rumah tangga. Peran perempuan sebagai pendidik dalam urusan rumah tangga juga sangat menonjol dalam tradisi Gowok ini.
Tapi, tentu saja akan muncul pro kontra. Gowok dikisahkan harus tahu batasan. Ia hanyalah istri bayangan yang tidak boleh menggunakan hatinya saat "mengasuh" pria muda itu. Ia harus siap melepas cantriknya jika masanya tiba. Di titik ini, profesi Gowok hanya dinilai dengan materi, tidak boleh ada perasan yang terlibat.
Sepintas, saya melihat Gowok itu seperti Geisha di Jepang. Mereka tak hanya sekedar menjual tubuh tapi keindahan. Sama-sama digambarkan sebagai perempuan yang lemah lembut, kalem, dan mengerti cara membuat laki-laki bahagia. Tradisi Gowok ini banyak terjadi di Jawa, khususnya di sekitaran Banyumas, kalau di novel ini latarnya ada di daerah bernama Mbanget Waru berlatar tahun 1930an. Namun tradisi ini hilang di sekitar tahun 60-an.
Novel Nyi Sadikem ini enak banget dibacanya. Ceritanya disusun menguras emosi dari satu konflik yang muncul di hidup Nyi Sadikem ke konflik lainnya. Pun jika ada adegan sensual yang ditampilkan dalam novel ini, penulisannya tidak terkesan binal. Kita bisa merasakan luka perasaan yang dialami tokohnya. Dari membaca novel ini kita tahu satu hal, bahkan dari profesi yang dianggap tabu dan tak bermoral, pada masanya Gowok punya peranan yang cukup signifikan dalam mendidik seseorang untuk masuk ke dunia pernikahan.
Selamat mengeksplorasi novel ini.









0 comments:
Post a Comment