Tuesday, June 1, 2021

3 Tahun Tanpa Papa adalah 3 Tahun Terkelam

Bismillahirrahmanirrahim

3 tahun yang lalu, lepas subuh, neng, mama, adek, rino, anter papa pulang dari rumah sakit ke rumah. Dalam keheningan Ramadhan saat itu. 

Waktu menjelang sahur di rumah sakit, dan tahu papa sudah pergi neng cuma diem. Shock. Ga percaya. Di rumah sakit kala itu, setetes air matapun ga keluar dari mata neng. Karena neng ga pernah menyangka akan kehilangan papa begitu cepat. Satu satunya lelaki yang tulus menyayangi neng dengan semua keburukan, kelemahan, dan kekurangan neng. 

Sampai berbondong bondong orang datang ke rumah pun, melihat begitu banyaknya orang yang mengantar kepergian papa, kesadaran neng belum penuh. Sampai sinyal bumi memantik kesadaran neng, saat melihat papa dibaringkan dengan kain kafan dan ditutup kain batik. Neng baru sadar, neng sudah kehilangan papa selamanya.

Di titik itu neng hancur lagi, bertahun tahun neng hanya fokus pada diri sendiri. Kemudian fokus pada sakit hati dan hancurnya mental neng karena perpisahan waktu itu. Sampai akhirnya saat itu neng sadar, selama ini neng selalu hanya nenikirkan diri sendiri. Semua orang hanya memikirkan neng, termasuk papa dan mama. Bagaimana neng bisa bangkit dari keterpurukan saat itu.

Setelah bangkit, neng pikir masih punya banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Membangun kembali bata impian neng. Dan membuat papa mama bangga memiliki neng sebagai putri sulungnya.

Tapi saat itu, semuanya runtuh. Lagi lagi saya hancur dan terpuruk. Neng masuk rumah sakit sesaat setelah papa dimakamkan. Drop. Bahkan, saat di rumah sakit, entah berapa kali neng berpikir untuk mengakhiri hidup. Satu cerita yang bahkan neng ga pernah utarakan ke siapapun. Saat itu neng sudah di titik menyerah, marah, namun di saat yang sama sudah tidak punya daya untuk melanjutkan hidup.

Neng marah sama Allah SWT kenapa sampai harus mengambil semua orang yang neng sayang. Kehilangan suami dan sekarang kehilangan papa. Saat itu neng berpikir, kalau memang Allah SWT segitu bencinya dan murkanya sama neng, kenapa ga sekalian matiin aja neng. 

Padahal sesaat sebelum papa pergi, neng yang masuk rumah sakit, neng yang dioperasi, papa yang menguatkan neng saat itu. Papa dan mama orang pertama yang neng lihat saat kesadaran neng pulih pasca operasi. Dan kali itu lagi lagi neng masih bikin papa menangis. 

Ah masa masa itu, sepeninggal papa, adalah masa masa terkelam dalam hidup neng. Neng begitu marahnya dengan keadaan, sampai secara ga sadar neng menghancurkan diri sendiri dengan masuk ke dunia yang... ah neng bahkan tak tahu mendeskripsikannya seperti apa.

Butuh waktu lama untuk membuat neng tersadar, dan kembali menata diri. Mengejar ketertinggalan di hidup neng, yang selepas papa pergi makin oleng. Dari segala aspek. Ibarat keluarga kami kehilangan nahkodanya, kemudian terhantam badai jadi kami terombang ambing tak jelas arah. 

Bahkan sampai detik ini, semua sudah tidak sama lagi tanpa papa. Dalam waktu tiga tahun dari papa pergi, hidup neng berubah 180°. Bahkan sekarang, kamu harus kehilangan rumah rumah peninggalan papa. Neng baru sadar semua apa yang papa katakan, dan memahaminya sekarang. 

Gak, neng menuliskan ini semua tidak untuk menyebarkan aib keluarga. Atau menjual kisah sedih. Tapi, andai saja waktu bisa diputar ulang pa. Andai saja. Neng akan mengiyakan semua permintaan papa. Neng akan nurut semua apa yang papa minta. Karena pedihnya kehilangan papa bukanlah yang paling menyakitkan buat neng, tapi sadar bahwa selama neng hidup menjadi manusia dewasa neng terlalu pongah untuk memilih jalan hidup yang menurut neng benar. Tanpa sedikitpun menuruti permintaan papa saat itu. Memilih kuliah, memilih jodoh, memilih pekerjaan. Andai saja semua masih bisa diulangi Pa, neng mau mempercepat kedunguan neng dan segera sadar untuk memakai sedikit waktu yang neng punya untuk membahagiakan papa dan mama. 

Tapi, ga gitu kan pa caranya. Neng harus kehilangan papa untuk sadar. 

Kalau papa di sana melihat neng saat ini menulis ini semua dengan berderai air mata, neng cuma mau bilang "Neng gak apa apa pa, neng baik baik saja. Neng bisa tekan semua ego dan harga diri neng, dan memulai lagi dari titik minus. Karena neng anak papa Saerani Nyoman Wastrani. Seorang pelaut abk kapal, yang tangguh, hebat, pinter masak, punya prinsip hidup yang luar biasa, menempatkan kepentingan kami anak anaknya di atas kepentingannya. Papa tenang di sana pa, neng ga akan berbuat hal bodoh lagi dalam hidup. Neng akan memperbaiki semuanya, insyaAllah"

3 tahun tanpa papa, adalah 3 tahun terkelam dalam hidup neng. Tapi insyaAllah neng sudah bangkit lagi pa. Untuk mama. Untuk adek. Untuk hidup neng.

Al Fatihah. 

Saturday, January 16, 2021

Inggit di Pusaran Cinta dan Bakti Pada Orang tua


Annyeonghaseyoo yorobuun
Hai hai hai Good People

Kalo baca judulnya pasti udah pada ngeh kan neng mau review apa? Hehehe, yap My Lecturer My Husband. 

Disclaimer dulu boleh ya, jadiii jujur My Lecturer My Husband (MLMH) adalah serial Indonesia pertama yang saya lihat. Setelah selama ini dijejali oleh serial dari Korea, Cina, Jepang, dan akhirnya tergelitik nonton juga. Meskipun terlambat, baru nonton setelah episode ketiga tayang. Itu juga karena viral konten Prilly di Tiktok. Jadi di awal maraton dulu nontonnya. And yes, MLMH juga jdi mini series pertama di 2021 yang membuat saya turun gunung jadi penonton ongoing. 

Okey lanjut yak. 

MLMH sendiri menurut saya drama cinta dan kehidupan yang rumit tapi ditampilkan seringan mungkin. Bagaimana tidak rumit, jika kehidupan mahasiswi cantik yang baik baik saja dan bahagia dengan circle pertemanan, perkuliahan, serta keluarga berubah menjadi penuh kepelikan. 

Betul mahasiswi cantik itu Inggit, yang diperankan sangat menarik oleh Prilly Latuconsina. Inggit juga memiliki pacar mahasiswa Kedokteran, Tristan yang diperankan Kevin Ardilova. Sepasang lovebird ini digambarkan pasangan yang bucin tapi masih khas anak muda yang mungkin masih memegang egonya masing masing. 

Di awal serial ini masih seputar kehidupan pertemanan, perkuliahan, dan percintaan Inggit di Jakarta. Namun konflik baru muncul ketika Inggit harus pulang ke Yogya karena sang Ayah kesehatannya memburuk dan kritis. Di saat itulah, Ayah Inggit meminta Inggit mengenalkan laki laki yang dekat dengannya. Beliau ingin melihat Inggit menikah sebelum meninggal.

Seperti yang neng bilang sebelumnya, karena Inggit dan Tristan masih sama sama muda, jadi egonya masih tinggi. Hal ini terlihat ketika Inggit meminta Tristan ke Yogya menemui Ayahnya. Tapi ditolak Tristan dengan alasan dia harus fokus ke impiannya, pendidikannya. Melihat Inggit tak juga mendatangkan Tristan, Ayah Inggit menawarkan untuk mengenalkan pada Inggit calon suami pilihan Ayahnya. Dengan berat hati, Inggit menerimanya. Dan, di saat pertemuan Inggit luar biasa terkejut karena calon suami pilihan Ayahnya adalah Pak Arya, dosen terkiller di kampusnya yang paling ia benci.
Apakah Inggit bersedia menikahi Pak Arya meskipun ia sangat mencintai Tristan? Jawabannya Iya. Demi kebahagiaan orang tuanya. Tentunya dengan beberapa perjanjian di awal. 

Apakah konflik ini selesai? Tentu tidak. Bagaimana pernikahan yang tidak didasari cinta dan penuh kerahasiaan bisa berjalan tanpa konflik.

Yang menarik dari MLMH ini ada banyak sekali pesan yang tersirat selama 8 episode penayangannya. Tidak seringan cerita cinta menyek menyek. Misal tentang peranan perempuan yang tidak bisa berdiri sendiri, karena dia adalah anak dari orang tuanya, istri dari suaminya, dan ibu dari anaknya. Sehingga setiap apapun keputusan yang diambil tidak bisa gegabah. 

Selain itu juga ada pesan tentang menemukan apa yang sesungguhnya kita inginkan. Karena peran peran yang neng sebutkan di atas, terkadang sebagai individu kita perlu ditanya berkali kali atau bertanya pada diri sendiri "apakah ini yang kamu inginkan?" "Apakah ini yang membuatmu bahagia"

Mas Arya yang diperankan Reza Rahadian sudah menggenggam janji pada ayah Inggit untuk menempatkan kebahagiaan Inggit di atas kebahagiaanya. Di beberapa scene kita diperlihatkan bagaimana mas Arya menanyakan pada Inggit "maunya apa". Meskipun kadang kala sambil bertengkar. Tapi, di kehidupan rumah tangga atau keseharian, penting untuk kita untuk saling berkomunikasi untuk mencari tahu apa sesungguhnya yang kita inginkan.

MLMH ini kalo menurut saya beneran dalam sih. Saya seringkali menemukan jleb moment. Bukan semata mata karena terbius kegantengan Reza Rahadian yah. Penulis cerita menghadirkan kisah yang relatable dengan banyak orang dan kemudian dibungkus dengan sinematografi yang cakep dari Monty Tiwa. 

Kangen deh masa masa sinetron Indonesia masih tayang seminggu sekali. Kalau aja semua sinetron Indonesia dikonsep seperti Drama Korea yang episodenya pendek tapi cerita yang digarap lebih variatif. Semoga sih makin banyak yang macam My Lecturer My Husband gini.

Oh ya, mau tahu ending My Lecturer My Husband gimana serunya? Masih bisa ditonton di We TV atau Iflix. Enjoy watching.

Wednesday, January 13, 2021

The Swordsman, Mata dan Pedang Sang Putri


Annyeong yorobuunn
Haaai Good People...

Apa kabar, hari ini tanggal 13 Januari 2021. Mungkin bisa jadi salah satu hari bersejarah bangsa ini ya. Setelah 2 hari kembali diperketat pembatasan sosialnya, hari ini presiden Jokowi akan menjadi orang pertama yang menerima vaksin covid.

Semoga kita semua selalu sehat yaah. 

Okey back to the topic. Neng kali akan membahas tentang salah satu film Korea yang neng tunggu tunggu. The Swordsman. Kenapa neng antusias? No, bukan semata karena ada Joe Taslim. But of course i also proud of him. Salah satu aktor terbaik Indonesia ambil peran sentral di perfilman Korea. 

Tapiiii eh tapiii, karena pesona Jang Hyuk yang membuat neng ga sabar buat nonton. Jang Hyuk ini salah satu aktor Korea yang kalo disuruh main drama jago, action jago, psycho juga dia hajar. Drama Korea doi terakhir yang neng lihat dan membuktikan aktingnya ciamik Tell Me What You Saw. Nanti beberapa scene di The Swordsman akan mengingatkan pada scene di TMWYS. 

Okay back to The Swordsman. The Swordsman ini berlatar Korea era Joseon. Di masa itu, terdapat chaos saat perpindahan antara dinasti Ming dan Qing. Di detik detik lengsernya Raja Gwanghaegun yang diperankan oleh Jang Hyu Sung, ada salah seorang prajurit istana yang melindunginya. Tae Yul, yang diperankan sangat kece oleh Jang Hyuk di saat duel terakhirnya sebelum meninggalkan istana ia harus merelakan matanya terluka akibat serpihan pedang.

Tae Yul mengasingkan diri ke gunung bersama anaknya, Tae Ok yang diperankan oleh Kim Hyun Soo. Hingga si anak ini remaja, ia jarang sekali turun dari gunung dan ke kota. Hingga suatu hari Tae Ok memaksa ayahnya turun gunung untuk membeli herba demi mengobati mata ayahnya yang nyaris buta.

Perjalanannya ke kota ini lah yang membawa takdir Tae Ok terbuka. Termasuk siapa ayahnya, Tae Yul. Yang ternyata adalah salah satu pendekar pedang terbaik di era Joseon. Di saat itulah, Tae Yul sekali lagi harus menghunus pedangnya yang bermata dua demi menyelamatan putrinya dari sekapan pimpinan dinasti Qing, Gurutai, yang diperankan oleh Joe Taslim.
Apa sih yang menarik dari film ini? 

Pemilihan Jang Hyuk sebagai aktor yang memiliki karakter kuat sebagai pemeran Tae Yul yang setengah buta ini salah satu yang menarik. Karena entah kenapa menurut saya, Jang Hyuk selalu berhasil memerankan sebagai seseorang yang kehilangan penglihatannya. Seperti di drama Korea Tell Me What You Saw. Matanya itu bisa kosong tapi seolah menyampaikan pesan "Hei aku bisa melihatmu".

Selain itu, seperti di awal neng bilang Jang Hyuk ini jago di segala peran. Dengan ekspresi wajahnya yang dingin pun, untuk peran drama dia bisa menciptakan adegan yang menggelitik mata untuk berair. 

Termasuk di film ini. Tanpa terlalu mengumbar dia menyayangi anaknya, tapi sepanjang film kita akan dibawa mengerti that she love her daughter so much, more than himself. Kamu bisa tahu alasannya di akhir film hahahah.

Oke selain itu yang menarik, tentu saja keberadaan Joe Taslim. Aktor Indonesia pertama yang terlibat dalam film Korea dan mendapatkan porsi main cast. Apalagi film The Swordsman ini dibintangi oleh aktor aktor papan atas Korea. Nah di film ini Joe Taslim bertutur dengan bahasa Korea. Wajah oriental Joe Taslim tuh kaya udah ngelebur ama oppa dan ahjussi di sana đŸ€Ł


Yang membuat saya kagum itu, detail detail simbol yang ditautkan dalam film ini tuh bisa menggantikan puluhan dialog untuk menjelaskan cerita. Paling ga ini cocoklogi ala neng nunung yah, jangan pada protes wkwkwk.

Pedang bercabang dengan dua mata milik Tae Yul ini menyimbolkan banyak tanda. Pedang ini diberikan padanya oleh raja Gwanghaegun melalui Min Seung-ho yang diperankan oleh Jung Man Sik. Siapa nyana Tae Yul dulunya adalah komplotan dari dinasti Qing yang membelot dan diselamatkan oleh raja Gwanghaegun. Naaah sejarah inilah yang kemudian menjadi benang merah dari cerita ini.

Selain itu pita rambut Tae Ok juga kemudian menjadi simbol siapa dia sebenarnya. 

Hal lainnya, bagaimana bisa pendekar sehebat Gurutai yang terkenal kekejiannya, bisa kalah oleh pedang bercabang Tae Yul. Apa pasal? Karena Tae Yul menghancurkan mentalnya terlebih dahulu. Tae Yul menyerang dan membunuh orang yang dicintai Gurutai. 

Dari awal hingga akhir neng dibuat ga bisa nafas tenang. Karena ada ketegangan demi ketegangan. Banyak pertanyaan yang baru muncul jawabannya di akhir. Dijamin ga bakal bisa skip skip untuk hal lain kalo lihat The Swordsman. 

Oh ya, neng nontonnya di Viu yah. 
Coba deh nonton nanti kita ngobrol kuy. Happy watching 💓

Title : The Swordsman
Genre : Action, Drama, Joseon era
Rating by Me :🌕🌕🌕🌕🌗

Thursday, December 31, 2020

Saatnya Memulai Kembali


Hai Good People... 
Ketemu lagi dengan neng setelah sekian lama. Apa kabar? Masih bertahankah? Tentu masih, buktinya kamu masih membaca tulisan ini. Selamat datang di blog yang mungkin sudah penuh sarang laba laba. Mari kita benahi lagi.

Kamu tahu, kamu dan kita adalah orang hebat. Karena untuk bertahan sejauh ini di tahun 2020 itu suatu hal yang patut diapresiasi. Banyak yang tumbang karena keadaan. Sepanjang tahun 2020, banyak sekali kisah murah dan sedih. Banyak kabar kematian. Banyak cerita kehilangan.

Mereka yang pergi mungkin tak banyak dikenal, tapi mereka anak dan keluarga dari seseorang. Sebagian mungkin memiliki legacy sebuah karya. Tapi banyak lainnya bukan seseorang yang jadi memori di ingatan orang lain

Dan... saya ingin menjadi seseorang yang terpatri di ingatan banyak orang. Dan salah satunya melalui tulisan.

Jadi... mari kita mulai kembali. Saat ini waktu yang tepat. 

Mari mulai mematri ingatan. Selamat bersenang senang.

Tuesday, February 4, 2020

Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Bismillah
Annyeonghaseyoo Yorobuun

Kali ini neng mau sharing tentang satu hal, KEPERCAYAAN. 
Teman teman pernah mendapatkan atau mengemban sebuah amanah, namun gagal menjaga kepercayaan itu? Sehingga mengecewakan sang pemberi amanah... Neng pernah, mungkin beberapa kali, secara neng sadari atau tidak, neng sengaja atau tidak. Apapun alasannya, neng pernah membuat kecewa. Mungkin bukan satu dua orang tapi banyak.

Tahu bagaimana rasanya? Kalau bisa mengutuki diri sendiri mungkin sudah banyak sumpah serapah yang neng keluarkan untuk diri sendiri. Marah dan malu yang terasa membakar wajah. Karena saat gagal mengemban amanah dan melukai serta mengecewakan orang lain itu mahal sekali harganya. 

Jika sekali seseorang dikecewakan untuk mengembalikan kepercayaanya kembali pada kita itu, perlu usaha yang lebih dari saat awal. Belum tentu juga kepercayaanya kembali utuh. Ibarat selembar kertas yang diremas remas. Lalu sekuat apapun kita membuatnya lurus lagi, rapi lagi, rata lagi. Mungkin bisa tapi tekstur kertasnya akan sama saja tidak bisa utuh seperti sebelum diremas. 

Lantas bagaimana jika kita suatu saat diberikan amanah, apa yang harus kita lakukan? 
Yang pertama, pelajari apakah kita MAU menerima amanah tersebut. 
Yang kedua, pastikan kita MAMPU menjaga dan menjalaninya. Analisis semua prosesnya apakah benar kita memiliki kapabilitas tersebut.
Yang ketiga, LAKUKAN YANG TERBAIK untuk membuktikan memang kita layak mendapatkan amanah tersebut. 
Yang keempat, JANGAN BERHENTI. Seberat apapun jangan berhenti. Jika ada kendala maka tugas kita cari solusi terbaiknya. Diskusikan dan minta masukan pada si pemberi amanah saat kendala itu muncul agar Ia mampu juga memberikan masukan solusi terbaik.

Poin keempat ini yang penting adalah proses komunikasi dari si pemberi amanah. Karena kuncinya adalah komunikasi. Pun jika di tengah jalan kita sudah merasa tidak mampu, maka jika komunikasi terjalin baik maka semua pihak akan memahami kendala yang kita hadapi. 

Percayalah mahal sekali harganya kalau kita harus mengembalikan kepercayaan yang hilang. Karena untuk membuktikan diri kita masih bisa dipercaya itu benar-benar butuh usaha ekstra. Jadii... Jaga terus apa yang telah dipercayakan padamu. Tunjukkan kalau memang kamu layak dipilih. 

Keep spreading the love
Neng Nunung

11:11 moment
Day 35 of 366