Tuesday, July 25, 2017

Teman Terdekat Saya Adalah...


Dalam kehidupan seseorang akan dipertemukan dengan orang orang yang bersinggungan dalam perjalanan takdir. Layaknya simpulan tali, akan ada bagian tali yang harus bertemu dengan bagian lainnya agar simpul terjalin erat. 
Mereka datang dan pergi, dengan membawa kenangan masing masing. 

Saat ditanya, teman terdekat saya saat ini siapa? Mungkin terlihat mudah menyebut satu atau dua nama, mungkin juga 10 nama saat kita berada di masa terbaik. Namun, di saat masa-masa terburuk, menyebutkan satu nama saja bibir ini terasa kelu. 

Dan di saat-saat ini, teman terdekat dan terbaik saya adalah... 
Pena dan buku catatan. 
Dengan menulis, mungkin tidak di blog, membuat saya lebih stabil secara emosional. 
Karena menulis katanya bisa menjadi terapi jiwa.

Teman terbaik yang menjadi tempat mencurahkan semua kisah teraman dan ternyaman selain Tuhan adalah pena dan buku catatan. 
Mereka tidak akan terluka jika apa yang saya tuliskan adalah kegetiran.
Mereka tidak akan menguarkan kata kata yang aku goreskan.

Kalau kamu? teman terdekatmu yang selalu ada di saat saat terbaik dan terburukmu siapa?

#Day2

========================
July 25
A friend in need…
Finish this sentence: “My closest friend is…”

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year
The Editors, WordPress.com





Monday, July 24, 2017

Ia yang Abadi Selain Kenangan


Sketsa : Pameran ulang karya seniman seniman patung setelah 100 tahun. Latar Tahun 2114. 

Apa yang abadi selain kenangan? 
Karya...

Di sinilah kita berada 100 tahun kemudian 
untuk bersama sama membuka peraman rindu pada kenangan masa lalu 
Kenangan yang tak hanya terselip pada memori kita, aku, kamu, dan kalian. 

Tapi kenangan yang merupa sebagai karya

Adakah yang sama pada diri kita saat ini dengan seabad lalu 
Tak ada
Yang menyatukan kita dalam keabadian adalah kenangan dan karya
Karya yang nanti akan kita lihat bersama
Karya yang pernah dinikmati pada zamannya 

Karya yang menjadi pengingat bagi kita untuk terus melahirkan karya 
Hingga nanti meskipun kita tak abadi kenangan akan kita dan karya karya kita 
bisa tetap terpijar

#Day1

===================
July 24
From the collection of the artist
It’s the year 2114. A major museum is running an exhibition
on life and culture as it was in 2014. You’re asked to write an
introduction for the show’s brochure. What will it say?

365 DAYS OF WRITING PROMPTS
A prompt to fire your imagination, each and every day
for a year
The Editors, WordPress.com



Sumber Gambar dari sini 

Awal dari Segalanya?


Semua yang berawal pasti berakhir
untuk memberi jalan untuk memulai kembali

Dan bila saatnya tiba
yang akan terjadi maka terjadilah
begitu kan?

Entah kekuatan dari mana itu akan muncul
Tapi ya, katakanlah jika memang harus ada langkah yang diambil
Maka kekuatan itu pasti hadir

Seketika kamu akan tahu langkah mana yang harus kamu ambil
jalan mana yang harus ditapaki

Tak akan menghapus jejak kenangan
karena entah kapan kenangan akan menjadi cermin
agar tak lagi salah

Jadi, inikah awal dari segalanya lagi?

Beri aku jawaban wahai Semesta!!!

Sumber Gambar : https://topenafineromance.wordpress.com/

Monday, November 21, 2016

Rindu...

Tiba tiba ingin sekali menjadi pujangga
yang dengan mudahnya merangkai kata seperti aku yang dulu...

Tiba tiba rindu sekali pada diri yang bebas tanpa beban melakukan apapun yang diinginkan

Belajar pada dia yang tak takut menantang sunyi. karna ia percaya akan ada pucuk pucuk daun yang akan temaninya nanti. foto by : neng.nunung
Ingin pergi, bergegas pergi
Ingin teriak, suara sekencang hembusan angin Desember pun tercipta
Ingin menangis, tak perlu menunggu hujan menyamarkan suara dan aliran air dari mata

Tiba tiba ingin sekali menjadi diri yang dulu...

Dan ketika keinginan itu muncul, suara sumbang pun muncul "ah kamu hanya tak pandai bersyukur kawan... "

Banyak hal yang belum tertunaikan di sisa usia ini...

Ah... andaikan saja aku memiliki jam pemutar waktu, aku bisa kapan saja kembali ke masa lalu dan memperbaiki yang salah

Ah... andaikan saja ku punya kuasa, aku ingin memundurkan kembali usiaku, hingga jeda dengan kematian semakin jauh...

Ah... andaikan...

Dan aku tahu...
Aku hanya rindu pada diriku sendiri, tanpa kelambu kepalsuan, tanpa topeng, tanpa mengorbankan idealisme dan pertentangan hati...

Catatan menjelang pergantian angka...

Sunday, October 2, 2016

Ketika Hobby dalam Genggaman Jadi Kunci Kesuksesan


Sejak dulu saya selalu kagum dengan orang oramh yang bisa hidup dengan passion dan hobinya. Terlebih lagi pada mereka yang bisa bekerja dan mendapat sumber penghidupan dengan menjalankan hobinya. Misal nih, seorang yang cinta banget dengan dunia kuliner dan memasak, bisa memiliki bisnis atau pekerjaan di dunia kuliner juga. Atau paling tidak mereka yang memiliki hobi dan masih bisa menekuninya di antara kesibukannya.
Salah satu sahabat saya sejak kuliah, sebut saja namanya Bagus (hahahaha gak niat banget nyebutin nama sahabat sendiri. Ogah ah ntar dia besar kepala lagi saya jadiin bahan tulisan -.-). Dia ini memiliki hobi mengumpulkan apapun yang terkait action figure. mulai dari boneka, kaos, film, puzzle, apa aja deh. Awalnya saya sih agak geli, bagaimana seseorang yang sudah cukup dewasa masih menyukai hal hal berbau action figure, yang saat itu saya anggap hanya sekedar “mainan anak anak”.
Namun, seiring dengan waktu, Bagus yang berprofesi sebagai akuntan di sebuah perusahaan BUMN ini saya lihat semakin serius dengan hobinya. Beberapa exhibition terkait action figure, manga, toys, dan sejenisnya yang diadakan tidak hanya di Surabaya tapi bahkan sampai ke negara tetangga dia datangi. Saya memerhatikannya dari kejauhan yang semakin mendalami hobinya.
Suatu hari saya sempat bertemu dengannya. Ia bercerita bahwa hobinya dia itu bahkan sekarang bisa menjadi sumber penghasilan. Bagus kerap kali berburu action figure yang limited edition dan kemudian menjualnya kembali, tentu saja setelah sebelumnya membeli untuk dirinya sendiri. Dia bergabung dengan banyak komunitas penghobi yang sama. Dan di sanalah semuanya bermula.
“Aku nggak nyangka Nung, padahal dulu beneran cuma hobi saja. Sekarang ini malah aku berkecimpung di dunia toys action figure ini dan jadi salah satu pemain aktifnya. Duit yang aku dapet dari sini tiap bulannya malah nyaingin gajiku di kantor hahahaha” katanya saat itu dengan renyah.
“Ya udah atuh resign ajah. Kan udah ada pegangan juga” jawabku ngasal.
“Nggaklah neng genduut... Aku pengen nunjukin, hobiku ini bisa jadi kunci suksesku juga di urusan kantor. Biarkan dua hal itu jalan beriringan.” Jawabnya sambil sesekali meminum kopi di hadapannya.
Orang-orang macam Bagus ini yang membuat saya iri. Bagaimana dia bisa men-drive passion dan hobinya sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya. Langsung dah saya mikir, hobiku apaan yak. Ahahahah
Pas ketemuan itu saya sempat sharing dengannya tentang salah satu produk yang kebetulan saya dapat infonya belum lama ini.
“Gus pernah dengar soal Marvel ga?” tanyaku sambil tertawa menggoda.
“Hadeeeh... lek aku ga tahu Marvel iso diragukan kredibilitasku neng. Lah salah satu koleksiku aja Iron Man, gimana sih kamu.” jawabannya ini membuatku tertawa ngakak. 



Saya buka smartphone saya dan menunjukkan beberapa gambar pulpen Cross Marvel sambil saya cerita kalau merk Cross ini sudah beli lisensi Marvel untuk 3 karakter super heroesnya. Captain America, Iron Man, dan Spiderman. Nah gambar yang saya tunjukkan ke dia itu gambar pulpen Cross tipe Century II dan Tech II yang keduanya dilekatkan icon tiga karakter super heroes itu. Produk ini merupakan salah satu koleksi special edition Cross tahun 2016 ini. 
Bener seperti dugaan saya. Begitu saya tunjukkan pulpen itu matanya melotot wkwkwk... Sudah deh entah dia denger apa gak penjelasan saya karena dia sibuk ngubek ngubek webnya Cross di www.cross.com.
“Gila aku mau banget yang Marvel Century II ini, di karakter Iron Man ada lapisan emas 23 karatnya, di Captain America dan Spiderman dilapisi Rhodiumnya. Kereeen. Eh yang Marvel Tech II juga bagus ada emblem yang ditempelkan di setiap pulpennya sesuai super heroesnya. Kamu dapat dari mana info beginian, tumben banget biasanya sukanya Conan ama Kindaichi ahhahaha.”
Hahahah melihat dia kembali seperti anak kecil yang lihat mainan kesukaanya itu hal yang lucu. Iya kali bapak bapak brewokan jadi kaya anak anak gara gara lihat pulpen.
“Neng beli di mana kalo ginian. Kasih info jangan nanggung nanggung lah”
“Sudah ke Jakarta aja kamu sono, di Toko Buku Gramedia Jakarta udah dijual sih katanya. Kalau ga salah harganya Rp. 2,4 Juta untuk yang Century II dan Rp. 700 rb untuk Tech II.”
“Gilaaa... worth it banget ini sih. Eh kalau aku pakai yang Century II yang Iron Man, beeuuh ada emasnya boss... Bisa nambah pride kalau ketemu sama klien atau sesama penghobi lainnya.”


Sejenak saya berpikir, apa iya memakai pulpen mahal dan sesuai hobi gini bisa menambah gengsi. Tapi saya sih yakin, bukan harga yang membuat sebuah pulpen dalam genggaman itu berharga. Tapi apakah pulpen itu bisa membawa si orang yang menggenggamnya menjadi lebih sukses dan percaya diri atau tidak setelahnya. Dan di tangan Bagus, pulpen Cross Marvell itu saya yakin akan membuat dia semakin percaya diri dan flying high to the moon.
Pulang bertemu dengan Bagus, saya jadi terinspirasi, mencari tahu hobi yang bisa saya tekuni dengan serius apa.