Sunday, February 15, 2026

Apakah Pemimpin AI Lebih Baik dari Manusia


Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan || Adit MKM || @gagasmedia ||  Cetakan Pertama, 2024 || 260 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Pernah mikir gak, kok negara ini makin ganti presiden masalahnya gak makin berkurang tapi seperti nambah aja masalahnya, nambah aja bebannya ke rakyat, makin banyak aja pejabat yang menunjukan tidak kapabilitasnya dalam menjalankan negara ini. Lelah kan kita? Bahkan saya pernah di titik "Taik capek banget jadi WNI, kalo ada cara gue pindah warganegara gas lah."

Nah, novel Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan karya Adit MKM ini menawarkan cerita dengan premis yang menarik menurut saya. Bagaimana jika semua bencana, kerusakan alam, ketimpangan ekonomi, dan kesemrawutan di dunia ini karena negara masih dipimpin oleh manusia yang punya sisi manusiawi yang tamak, manipulatif, seringkali tidak menggunakan hati nurani saat mengambil keputusan, dan masih banyak hal gila yang pernah terpikirkan oleh manusia. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki kerusakan di sebuah negara atau tatanan sosial adalah dipimpin oleh komputer atau AI.

Agak absurd, tapi kalian harus membaca novel ini sendiri. Novel ini dibuka dengan gambaran sebuah wilayah utopia bernama Neopolis. Di Neopolis semua orang bekerja bukan lagi karena mengejar uang tapi hanya sekedar menjalankan peranan masing-masing. Kalau warganya lapar, mereka hanya tinggal minta dan makan. Semua kehidupan di Neopolis dikontrol, termasuk jumlah populasi. Mereka mengendalikan populasi di Neopolis dengan cara memandulkan warganya. Urologis menjadi sebuah profesi penting di Neopolis. Dan menariknya, Neopolis dipimpin oleh Sang Komputer, benar-benar komputer. Tapi, kehidupan di Neopolis berjalan dengan nyaman dan tenang tanpa gejolak berarti karena sebuah slogan yang selalu mereka dengungkan, Ketaatan Melahirkan Keberlanjutan.  

Di sisi lain, ada podcast yang diampu oleh dua orang Danu dan Geraldy yang berbicara melantur ke sana-sini tapi kemudian mereka membicarakan konsep negara ideal menurut mereka. Bagaimana sesungguhnya menurut mereka kekacauan di dunia ini adalah karena keserakahan manusia. Danu dan Geraldy juga membicarakan bagaimana mencari solusi atas kekacauan itu. Termasuk opsi membentuk negara yang dipimpin oleh AI, yang mereka pikir akan mengurangi kesalahan dan kelalaian yang kerap dilakukan manusia saat memperoleh jabatan. 

Menjadi menarik karena ide-ide yang ada dalam podcast tersebut kemudian terwujud bernama Neopolis. Apa kaitan antara podcast dan Neopolis kamu harus  baca novel ini sendiri. 


Jujur, novel ini menurut saya lebih dari sekedar novel fiksi fantasi. Covernya yang terkesan "cantik" dan "fantasi banget" itu seperti hanya kamuflase dari isinya yang dark, penuh ide-ide makar, dan konspirasi. Saya merasa, suara penulis muncul dalam percakapan di podcast itu. Konsep-konsep tentang tatanan negara ideal yang Danu dan Geraldy munculkan itu seperti perwakilan penulisnya, apakah Adit MKM memang berniat membentuk sebuah tatanan sosial dengan AI sebagai junjungannya? hahaha mari kita tanyakan ke penulisnya langsung. 

Yang saya suka dari novel ini, dunia utopia (atau kalau saya bilang distopia semu) yang diciptakan penulis itu seperti mudah saya bayangkan di kepala. Bagaimana Neopolis yang dikelilingi tembok tinggi, kehidupan orang-orangnya, letak rumah sakitnya, menara komputer di tengah-tengah, atau dunia lama di luar Neopolis itu bisa disajikan dengan detail dan mudah sekali tercerna oleh saya yang jujur saja jarang sekali membaca karya fantasi. Alur penceritaannya juga mengalir enak dibaca dan page turner banget. Perpindahan antara fragmen cerita Neopolis dan fragmen podcast juga saling mengisi dan terjalin. Idenya yang kuat juga bisa tersampaikan dengan baik ke pembaca. 

Saya hanya terganggu dengan satu hal dari novel ini, endingnya. Saya membayangkan pasukan revolusi bisa menumbangkan rezim sehingga cerita ini akan "happy ending". Tapi ending yang berbeda ditawarkan penulis pada akhir cerita membuat saya berpikir "apakah memang di dunia ini tidak mungkin tercipta kondisi yang ideal?". Jika kita ditawarkan hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran semu maka kita harus siap menukarnya dengan kebebasan yang terenggut dengan absolut.

Baca saja lah sendiri novelnya, sangat mindblowing menurut keyakinan saya. Saya yakin saat kalian mulai membacanya, tidak akan bisa berhenti hingga lembar terakhir. Selamat Membaca



0 comments:

Post a Comment