Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati || Brian Khrisna || Penerbit Grasindo || Cetakan ke-65, September 2025 || 209 halaman
Rate : 5/5 ⭐
Selama ini aku selalu mencari jawaban dari tempat-tempat yang jauh, padahal Tuhan meletakkan jawaban itu begitu dekat denganku. Yang kubutuh hanya melihat lebih luas dan lebih bijaksana.
(Ale - Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati | Brian Khrisna)
Jujur, saya terus menunda membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati atau kita sebut saja SMASM. Saya ketakutan bahkan sebelum membaca novelnya. Ketakutan karena asumsi "pembaca" lain tentang buku ini dan juga ketakutan saya akan "dimakan" hidup-hidup oleh cerita novel ini. Dan, pada akhirnya ketakutan saya yang kedua benar terjadi.
Novel SMASM yang ditulis Brian Khrisna ini benar-benar menghabisi saya melalui tokoh Ale. Semua kecemasan Ale, rasa ingin mengakhiri hidup karena merasa tidak punya "masa depan", rasa kesepian, dan rasa bersalah yang dirasakan Ale pernah dan mungkin masih saya rasakan. But no, saya ga akan membawa ulasan buku ini menjadi sesuatu hal yang personal.
Penggambaran tokoh Ale yang jauh dari kesan good looking dan terlihat unwanted seperti jadi bahan bakar cerita yang pas. Terlebih keputusasaan Ale akhirnya membawanya pada keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Sebuah titik terendah keputusasaan seseorang dalam hidup adalah ketika ia sudah tidak lagi punya keinginan untuk tetap hidup. Namun, di saat Ale sudah menentukan hari kematiannya, tiba-tiba ia ingin makan mie ayam langganannya. Semangkok mie ayam itu lah yang membawa Ale ke petualangan baru.
Ale dibawa oleh Tuhan di kehidupan yang selama ini jauh dari hidup kesehariannya. Ale yang terbiasa bekerja di kantor ber-AC di gedung tinggi, lantas dipertemukan dengan kisah hidup orang-orang yang kemudian mengubah hidupnya. Berteman dengan bandar narkoba seperti Murad, masuk ke kehidupan malam, berkenalan dengan mucikari seperti Mami Louisse , PSK seperti Juleha, orang-orang yang terjerat hutang rentenir seperti Pak Uju, orang dengan tuna netra seperti Pak Jipren, bahkan sempat menjadi orang kepercayaan Murad.
Salah satu punchline yang paling ngena buat saya adalah "Maybe, it's just a bad day, not a bad life afterall". Kalimat ini seperti sebagai tanda bagi kita pembaca novel SMASM ini, kalau hal-hal yang mungkin menurut kita buruk terjadi di hidup kita itu tidak akan selamanya terjadi. Seperti Ale yang akhirnya diarahkan masuk ke "dunia lain" sampai akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan dan kerisauannya selama ini. Hanya dengan menambahkan variabel lain di antara rencananya, makan mie ayam.
Cerita di novel ini disajikan dengan bahasa yang menurut saya cukup mudah dibaca dan dipahami. Dialog-dialog antara Ale dan para tokoh lain juga hadir dengan cair namun sekaligus menunjukkan karakter masing-masing tokoh itu. Beberapa bagian cerita di novel ini membuat saya menjeda sejenak dan menarik napas panjang. Percakapan antar tokoh yang cair tadi berhasil mengetuk masuk ke pikiran dan hati saya.
Ringannya gaya penceritaan tidak sebanding dengan beratnya pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Cerita dalam novel ini seperti jujur menyajikan realita yang menghangatkan hati saat dibaca. Tidak memicu pembaca untuk berbuat hal buruk, malah sebaliknya, novel ini mengajak pembaca kembali menyadari dan menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang membelit di kepala.
Kalian yang suka bacaan yang ringan tapi sarat tamparan dengan cara yang sederhana, harus mencoba membaca novel ini. Jangan takut-takut seperti saya. Kemudian temukan ketenangan dan jawaban pertanyaanmu sendiri.
Selamat membaca.








